Brasil (PANTURATV.ID) - Menyusul keputusan mengejutkan dari Neymar yang memilih untuk gantung sepatu dari panggung sepak bola internasional bersama tim nasional Brasil, sebuah pandangan kritis sekaligus empatik datang dari sosok legenda hidup, Ronaldo Nazario. Mantan penyerang tajam yang pernah membawa kejayaan bagi negaranya tersebut secara terbuka menyatakan keprihatinannya atas langkah pensiun yang diambil oleh sang bintang lapangan.
Menurut pandangan pribadinya, pengumuman mundur yang disampaikan sesaat setelah kegagalan pahit di ajang Piala Dunia dua ribu dua puluh enam tersebut merupakan sebuah langkah yang dinilai terlalu tergesa-gesa. Ia meyakini bahwa jalan pikiran sang pemain masih sangat diselimuti oleh kabut emosi yang mendalam serta rasa frustrasi yang luar biasa akibat kekalahan menyakitkan yang baru saja dialami oleh skuad Selecao.
Langkah skuad asuhan tim Samba di turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut memang harus terhenti secara dramatis pada fase perdelapan final. Harapan untuk melaju ke babak selanjutnya hancur lebur ketika mereka secara mengejutkan dipaksa menyerah dari tim nasional Norwegia dengan skor tipis satu berbanding dua.

Dalam pertandingan yang berlangsung dengan tensi tinggi tersebut, Neymar sebenarnya sempat memberikan secercah harapan melalui eksekusi tendangan penaltinya yang berbuah gol pada menit-menit krusial menjelang peluit panjang dibunyikan. Sayangnya, kontribusi tunggal tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan wajah negaranya dari jurang kekalahan, sekaligus mengubur impian mereka untuk membawa pulang trofi juara dunia ke tanah air.
Pemandangan memilukan terlihat jelas seusai pertandingan ketika air mata kekecewaan tumpah membasahi wajah penyerang bertalenta tersebut. Tangisan itu menjadi simbol kesedihan yang mendalam karena ia menyadari bahwa panggung tersebut kemungkinan besar merupakan kesempatan emas terakhirnya untuk mengangkat piala di turnamen sekelas Piala Dunia.

Keputusan untuk mundur dari tugas negara ini sejatinya tidak lepas dari dua faktor utama yang terus membayanginya selama beberapa waktu terakhir, yakni faktor usia yang semakin menua serta riwayat kondisi fisik yang tak lagi berada di puncak performa. Saat ini, usianya telah menginjak angka tiga puluh empat tahun, sebuah masa di mana seorang pesepak bola profesional harus berjuang lebih keras melawan batas kemampuan pemulihan fisiknya. Terlebih lagi, rentetan cedera parah yang silih berganti menghantamnya selama beberapa tahun ke belakang turut mempercepat keinginannya untuk mengakhiri pengabdian panjangnya di kancah internasional.
Meskipun kisah akhirnya dihiasi dengan kegagalan kolektif, warisan yang ditinggalkan oleh mantan pemain andalan klub-klub raksasa ini tidak akan pernah bisa dihapus dari lembaran sejarah sepak bola Brasil. Ia resmi menutup lembaran karier internasionalnya dengan torehan rekor yang sangat fantastis dan menakjubkan, yakni berhasil mencetak total delapan puluh gol dari seratus tiga puluh pertandingan resmi yang dijalaninya.
Pencapaian luar biasa ini menempatkannya di posisi puncak sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi negaranya, secara meyakinkan melampaui rekor abadi milik sang raja sepak bola, Pele, yang sebelumnya bertengger di posisi pertama dengan koleksi tujuh puluh tujuh gol. Rekor individu yang gemilang inilah yang membuat banyak pihak merasa sangat kehilangan atas keputusannya untuk meninggalkan ruang ganti tim nasional secara permanen.

Kembali menyoroti reaksi dari Ronaldo Nazario, peraih dua penghargaan pemain terbaik dunia tersebut merasa sangat menyayangkan apabila kisah luar biasa rekan senegaranya itu harus ditutup dengan cara yang sarat akan rasa penyesalan. Ia memandang bahwa sosok sentral di lini serang tim Samba tersebut sama sekali tidak seharusnya memikul seluruh beban rasa bersalah atas kegagalan tim secara keseluruhan di turnamen edisi kali ini. Dalam sebuah pernyataan simpati yang dikutip oleh jaringan televisi olahraga TNT Sports, sang legenda memberikan sebuah nasihat bijak yang sangat mendalam.
Ia berpesan dengan tegas agar juniornya itu tidak perlu menuntut hal-hal yang berlebihan dari dirinya sendiri, dan yang paling ditekankan adalah tidak perlu mengambil keputusan final apa pun pada saat pikiran sedang berada di titik terendah. Menurut peraih gelar juara dunia tersebut, sama sekali tidak ada urgensi untuk menyelesaikan segala sesuatunya di tengah suasana hati yang masih kalut, sehingga memberikan jeda waktu luang untuk menjernihkan pikiran adalah satu-satunya jalan terbaik yang seharusnya ditempuh saat ini.













