Surabaya (PANTURATV.ID) - Menyusul kemunculan seekor buaya muara yang mengejutkan warga sekitar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surabaya segera mengambil langkah antisipatif dengan memasang sejumlah papan peringatan di sepanjang tepi Sungai Jagir yang berlokasi di kawasan Kecamatan Wonokromo.
Langkah cepat nan tanggap ini diambil sebagai upaya perlindungan yang maksimal guna menghindari potensi bentrokan antara aktivitas manusia dan satwa liar tersebut. Pemerintah setempat sangat berharap masyarakat luas dapat lebih menyadari bahaya laten yang mengintai, sehingga mereka bersedia menghentikan segala bentuk kegiatan di sekitar bibir sungai, utamanya aktivitas memancing yang kerap dilakukan warga.
Pemasangan rambu peringatan ini menjadi sangat krusial dan mendesak mengingat sebelumnya telah beredar luas sebuah rekaman video di berbagai platform media sosial yang memperlihatkan adegan cukup mendebarkan. Dalam tayangan amatir tersebut, seorang warga tampak asyik memancing di pinggiran perairan tanpa menyadari bahwa tidak jauh darinya menyembul kepala seekor buaya yang seolah sedang memantau gerak-gerik sang pemancing secara diam-diam.

Merespons keresahan yang timbul di tengah masyarakat akibat video viral tersebut, Arif Sunandar, selaku Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surabaya, memberikan klarifikasi resminya kepada publik. Ia membenarkan secara langsung bahwa memang terdapat seekor buaya yang kini mendiami kawasan aliran Sungai Jagir.
Menurut penuturannya yang disampaikan pada pertengahan bulan Juli, kemunculan hewan reptil raksasa di sekitar Jalan Jagir Wonokromo ini merupakan sebuah fenomena yang terbilang baru, mengingat pada waktu-waktu sebelumnya wilayah perairan tersebut tidak pernah dilaporkan mendapat kunjungan dari buaya. Arif bahkan menegaskan bahwa dirinya telah turun langsung meninjau lokasi di kawasan Surabaya Selatan itu dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri keberadaan hewan karnivora tersebut sedang berada di habitat barunya.
Senada dengan hal itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surabaya, Linda Novanti, turut memberikan penjelasan tambahan mengenai perilaku spesifik dari satwa tersebut. Berdasarkan hasil pantauan intensif yang dilakukan oleh timnya di lapangan, buaya itu memang sering kali menampakkan wujudnya di sekitar area struktur Pintu Air Jagir. Walaupun demikian, ia mencatat bahwa satwa tersebut memiliki kebiasaan yang cenderung menetap di dalam air dan sejauh ini tidak pernah terlihat menunjukkan perilaku merayap naik ke daratan maupun area tepi sungai.
Meskipun ancaman secara langsung ke daratan belum terlihat nyata, pihak berwenang menegaskan tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun yang dapat membahayakan nyawa manusia. Oleh sebab itu, proses pemasangan rambu-rambu larangan segera dieksekusi dengan melibatkan kerja sama dari berbagai instansi terkait. Kolaborasi strategis ini mencakup keterlibatan Posko Terpadu Jemursari, Projopati Ngagel, serta Perum Jasa Tirta, yang bahu-membahu menancapkan papan peringatan agar warga menghentikan sementara semua kegiatan di area sungai, khususnya kegiatan memancing yang sering memicu kerumunan warga pada malam hari.

Jika ditelisik lebih jauh dari sudut pandang ekologis, berdasarkan kajian mendalam yang pernah dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, perairan Sungai Jagir pada dasarnya memang masih menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang penjelajahan dan habitat alami bagi spesies buaya muara. Arif menambahkan informasi bahwa jauh sebelum hewan ini terdeteksi muncul di area Pintu Air Jagir, satwa dengan jenis yang sama juga pernah terpantau berenang bebas di bawah Jembatan Nginden. Berdasarkan hasil pemindaian statis yang dilakukan oleh petugas pemantau di lapangan, untuk saat ini diperkirakan hanya terdapat satu ekor buaya yang aktif berkeliaran di lokasi perairan tersebut.
Rencana untuk melakukan penangkapan paksa atau evakuasi terhadap satwa tersebut dinilai sebagai pilihan yang kurang realistis dan justru dapat menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar bagi para petugas maupun warga. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis Sungai Jagir yang memiliki ukuran membentang sangat lebar, kedalaman air yang tergolong curam, serta arus sungai yang mengalir dengan cukup deras. Terlebih lagi, literatur ilmiah menyebutkan bahwa buaya muara yang hidup di alam liar mampu tumbuh besar hingga mencapai panjang empat sampai lima meter dan memiliki rentang harapan hidup yang sangat panjang, yakni berkisar antara lima puluh hingga tujuh puluh tahun.
Menghadapi situasi lingkungan yang cukup kompleks ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surabaya lebih memilih untuk mengambil jalan tengah dengan mengutamakan strategi mitigasi yang bersifat preventif serta memberikan edukasi yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat. Sebagai bentuk tindakan nyata dalam menjaga ketertiban, unit patroli yang bergerak di jalur air maupun jalur darat terus dikerahkan secara rutin setiap harinya untuk menyisir seluruh area yang dianggap rawan.
Para petugas di lapangan juga telah dibekali dengan perangkat pengeras suara untuk memberikan imbauan peringatan secara langsung guna membubarkan warga yang masih bersikeras atau nekat mendekati area bibir sungai.
Di samping itu, pihak pemerintah daerah juga secara khusus mendesak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak ragu segera menghubungi layanan panggilan darurat terpadu apabila mereka secara tidak sengaja melihat adanya pergerakan buaya yang mengarah mendekati wilayah permukiman penduduk. Masyarakat luas diimbau dengan sangat agar tidak terjebak dalam kepanikan masal atau ketakutan yang berlebihan, melainkan tetap dituntut untuk menjaga tingkat kewaspadaan yang tinggi dalam beraktivitas.
Seluruh warga dilarang keras untuk mencoba melakukan kegiatan memancing, mengganggu ketenangan satwa, atau bahkan memiliki niat nekat untuk menangkap buaya tersebut seorang diri tanpa bantuan tenaga ahli. Ancaman paling fatal dan membahayakan keselamatan sebenarnya akan muncul apabila terdapat warga yang kurang berhati-hati lalu terpeleset atau terjatuh ke dalam aliran sungai secara tidak sengaja. Kejadian tidak terduga semacam itu dapat secara otomatis memancing naluri berburu alami yang dimiliki oleh satwa liar tersebut, yang pada akhirnya akan bermuara pada ancaman serius terhadap keselamatan jiwa manusia.












