Semarang (PANTURATV.ID) - Pola makan dengan membatasi waktu makan atau intermittent fasting kini semakin populer di masyarakat. Selain ampuh mengatur berat badan, masyarakat mulai memanfaatkan pola intermittent fasting untuk kesehatan otak. "Pembatasan waktu makan ini dapat membantu tubuh mengatur kadar gula darah," kata dr Sohiab Imtiaz, MD. Pembatasan asupan kalori harian juga efektif menurunkan peradangan pada organ saraf otak secara signifikan. Oleh karena itu, penerapan metode puasa berkala ini memberikan banyak keuntungan bagi fungsi saraf manusia.
Pola populer seperti metode 16:8 mewajibkan seseorang berpuasa selama 16 jam penuh setiap hari. Selain itu, pelaku metode ini boleh mengonsumsi makanan hanya dalam jendela waktu delapan jam saja. Kendati demikian, efektivitas metabolisme tubuh sangat bergantung pada konsistensi waktu makan harian seseorang. Waktu makan pada siang hari dapat menyelaraskan jam metabolisme dengan ritme sirkadian tubuh manusia. Namun, kebiasaan makan terlalu larut malam justru memicu lonjakan gula darah yang sangat tinggi.
Selanjutnya, periode puasa yang lebih panjang mampu meningkatkan sensitivitas hormon insulin secara optimal. Peningkatan sensitivitas insulin ini penting karena resistensi insulin memicu proses penuaan otak manusia. Di samping itu, penurunan peradangan organ saraf dapat menjaga kejernihan berpikir manusia secara maksimal. Oleh sebab itu, banyak ahli kesehatan merekomendasikan puasa teratur untuk menjaga fungsi kognitif tubuh. Hasilnya, penerapan intermittent fasting untuk kesehatan otak menjadi strategi tambahan yang sangat potensial.

Meskipun memiliki beragam manfaat positif, metode puasa ini bukanlah satu-satunya cara menjaga organ otak. Sebab, masyarakat tetap wajib mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi seperti buah, sayur, serta kacang-kacangan. Kemudian, sumber lemak sehat dari minyak zaitun serta ikan berlemak juga sangat mendukung kinerja otak. Asupan kaya antioksidan seperti cokelat hitam dan blueberry mampu melindungi sel saraf dari kerusakan oksidatif.
Sebaliknya, konsumsi daging olahan dan makanan bergula tinggi sebaiknya masyarakat kurangi secara bertahap. Selain itu, pola makan seimbang seperti diet Mediterania terbukti ampuh memperlambat proses penuaan kognitif. Akhirnya, kombinasi gaya hidup sehat dan puasa teratur akan memberikan perlindungan kesehatan otak secara menyeluruh.















