LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Mengenali Tanda-Tanda Anak yang Terlalu Dimanjakan oleh Orang Tua

Oleh Cinta Isabell
3 September 2026
3 menit baca

Memanjakan anak bukanlah sekadar memberi banyak barang, dan aturan konsisten dalam mendidik. Anak yang terlalu dimanjakan biasanya menolak keras penolakan, dan memiliki tingkat egosentris tinggi yang mengganggu perkembangan sosialnya.

Mengenali Tanda-Tanda Anak yang Terlalu Dimanjakan oleh Orang Tua

Semarang (PANTURATV.ID) - Setiap orang tua secara alami menyimpan keinginan mendalam untuk memberikan hal yang paling sempurna bagi buah hatinya, yang sering kali diterjemahkan dengan selalu berusaha memenuhi setiap permintaan yang diutarakan sang anak. Walaupun membahagiakan anak merupakan wujud nyata dari cinta kasih, kebiasaan menuruti seluruh kemauan mereka secara terus-menerus bisa mengubah kasih sayang tersebut menjadi gaya pengasuhan yang terlalu membebaskan.

Anak-anak yang terbiasa hidup dengan segala permintaannya yang selalu dipenuhi mungkin pada awalnya tampak riang dan tidak kekurangan suatu apa pun. Kendati demikian, persoalan sesungguhnya akan mulai bermunculan secara perlahan ketika mereka dihadapkan pada penolakan di lingkungan sosial atau ketika mereka mulai berasumsi bahwa orang-orang di sekitarnya memiliki kewajiban mutlak untuk memuaskan hasrat mereka. Fenomena memanjakan anak pada dasarnya bukan sekadar perkara memberikan banyak barang atau selalu mengabulkan permintaan, melainkan lebih kepada hilangnya batasan, pedoman, dan aturan yang konsisten dalam proses mendidik anak sehari-hari.

  1. Menolak keras segala bentuk penolakan. Anak-anak yang tumbuh tanpa batasan akan memiliki ekspektasi bahwa seluruh kejadian di sekitarnya harus berjalan selaras dengan keinginan pribadi mereka semata. Akibat pola asuh yang terlalu menuruti ini, mereka menjadi sangat resistan dan marah ketika mendengar kata tidak dari orang lain. Ironisnya, mereka justru menjadi pihak yang paling sering melontarkan penolakan ketika orang tua memberikan instruksi atau meminta bantuan.
  1. Merasa tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Walaupun anak-anak ini mungkin hidup dikelilingi oleh fasilitas mewah dan koleksi barang yang jauh melebihi standar anak-anak pada umumnya, rasa puas seolah menjadi hal yang mustahil untuk mereka rasakan. Mereka cenderung kehilangan kemampuan untuk mensyukuri dan menghargai hal-hal yang sudah ada di genggaman mereka. Daripada mengucapkan terima kasih, fokus utama mereka akan selalu terpaku pada barang atau pengalaman baru yang belum mereka dapatkan.
images (2) (30).jpeg
  1. Memiliki tingkat egosentris yang sangat tinggi. Pola asuh yang terlalu memanjakan sering kali melahirkan individu yang lebih mengutamakan kepentingan serta kenyamanan dirinya sendiri di atas segalanya. Anak-anak ini akan tumbuh dengan pemikiran bahwa mereka adalah pusat dunia, sehingga mereka sangat kurang memiliki empati terhadap kondisi atau perasaan orang lain di sekitarnya. Mereka juga selalu memelihara keyakinan bahwa mereka memiliki hak istimewa untuk terus-menerus mendapatkan perlakuan spesial.
  1. Sangat kesulitan menerima kegagalan atau kekalahan. Merasa sedih saat kalah memang merupakan emosi yang wajar bagi setiap manusia, namun anak yang terlalu dimanja memiliki kendala yang sangat besar dalam memproses perasaan kecewa tersebut secara sehat. Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan, pelampiasan yang mereka pilih biasanya adalah mencari kambing hitam dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Mereka akan merespons dengan kemarahan yang meledak-ledak murni karena realitas tidak berjalan sesuai dengan skenario mereka.
  1. Enggan menyelesaikan tanggung jawab dasar yang paling sederhana. Efek negatif lainnya terlihat sangat jelas dari keengganan mereka untuk berpartisipasi dalam tugas-tugas harian yang paling sepele sekalipun. Tanggung jawab pribadi yang seharusnya mulai dipupuk sejak usia dini, seperti menggosok gigi sendiri, merapikan tempat tidur, atau sekadar membereskan kembali mainan yang berserakan, akan dipandang sebagai beban berat yang secara konsisten selalu mereka tolak.
  1. Menunjukkan kecenderungan perilaku yang agresif. Kebiasaan memanjakan anak sangat erat kaitannya dengan gaya pengasuhan permisif. Berdasarkan berbagai analisis literatur psikologi, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang minim aturan umumnya sangat kekurangan keterampilan fundamental dalam meregulasi emosi negatif. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan orang tua serta minimnya dialog untuk meminta anak merefleksikan perbuatan mereka. Alhasil, saat mereka berbenturan dengan konflik, mereka sangat kesulitan menahan dorongan bertindak agresif.
  1. Bertindak impulsif tanpa pemikiran yang panjang. Tumbuh kembang yang ideal menuntut seorang anak untuk belajar menguasai keterampilan menunda kepuasan sesaat demi hasil yang lebih baik. Sayangnya, sikap orang tua yang selalu buru-buru memenuhi keinginan merampas kesempatan berharga ini. Berbagai penelitian akademis menunjukkan bahwa ketiadaan kontrol dari orang tua berbanding lurus dengan rendahnya kemampuan regulasi diri anak, yang mencakup pengaturan fokus, tingkah laku, dan gejolak emosi, sehingga mereka bertindak murni berdasarkan impuls sesaat.

Pada kesimpulan akhirnya, tindakan memanjakan anak sama sekali tidak mencerminkan besarnya kapasitas cinta kasih yang dimiliki oleh orang tua. Konsep pengasuhan yang benar justru terletak pada kesediaan orang tua untuk menyeimbangkan pemberian kasih sayang dengan penyediaan ruang bagi anak untuk berlatih hidup mandiri. Anak-anak sangat membutuhkan kesempatan untuk merasakan rasa kecewa, memprosesnya, serta belajar memikul tanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang mereka ambil.

Tags

#anak dimanjakan#pola asuh#pendidikan anak#parenting#Semarang#Jawa Tengah#psikologi anak#tanda anak manja#kesalahan orang tua#pembentukan karakter anak#pola asuh anak#parenting Jawa Tengah#mendidik anak#orang tua Semarang#kebiasaan anak buruk

Tentang Penulis

Cinta Isabell

Penulis

Cinta adalah jurnalis di PanturaTV yang menulis seputar olahraga/gaya hidup/berita nasional. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat dan mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan.

162 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori