Semarang (PANTURATV.ID) - Belakangan ini marak beredar klaim di masyarakat yang mengaitkan fenomena munculnya rambut memutih atau uban sebagai indikasi aktifnya sistem kekebalan tubuh dalam meredam ancaman sel kanker. Anggapan ini berkembang pesat di kalangan publik yang meyakini bahwa proses memutihnya rambut adalah dampak langsung dari perlawanan internal organ tubuh terhadap mutasi sel berbahaya. Namun, berdasarkan penjelasan dari Dr. Yenny Rachmawati, seorang ahli akademisi dari Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, keyakinan umum tersebut dinyatakan sama sekali tidak berdasar serta tergolong sebagai mitos belaka.
Dr. Yenny menegaskan bahwa warna helai rambut tidak pernah dirancang oleh sistem biologis manusia untuk menjadi tolok ukur atau penanda utama risiko kanker. Rambut yang mengalami perubahan warna menjadi abu-abu atau putih secara murni terjadi karena berkurangnya produksi zat pigmen melanin. Pigmen ini dibentuk oleh sel bernama melanosit yang berakar pada bagian folikel rambut. Seiring berjalannya waktu serta bertambahnya usia, pasokan sel punca melanosit dapat mengalami penurunan secara kuantitas, penurunan fungsi secara alami, ataupun pergeseran posisi lokasi. Kondisi biologis inilah yang membuat rambut baru tumbuh tanpa membawa corak warna asli.
Meskipun dalam pengujian laboratorium menggunakan objek hewan uji tikus sempat ditemukan fakta bahwa sel punca melanosit yang mengalami kerusakan struktur asam deoksiribonukleat (DNA) dapat terdorong mengalami penuan dini demi mencegah pembelahan sel tak terkendali, fenomena ini tidak dapat disederhanakan sebagai pertanda immunity langsung. Adanya proses penuaan sel folikel yang berdampak pada rambut memutih tidak secara otomatis menjadikan seseorang terbebas atau terlindungi dari serangan kanker. Seseorang yang mempunyai uban melimpah di usia muda tidak terbukti memiliki daya tahan ekstra terhadap mutasi sel abnormal. Di sisi lain, individu yang kepalanya belum ditumbuhi uban sama sekali juga tidak dapat disimpulkan memiliki risiko kanker yang lebih tinggi.
Kemunculan rambut putih sebenarnya dipengaruhi oleh kombinasi dinamika faktor genetik, usia, perubahan hormon, hingga paparan gaya hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, sangat penting bagi publik untuk bersikap kritis dan tidak teliti dalam menelaah info medis agar terhindar dari kesimpulan keliru mengenai indikator kesehatan tubuh.
Anggapan bahwa pertumbuhan uban merupakan sinyal bahwa tubuh sedang secara aktif bertarung melawan kanker adalah mitos medis yang keliru. Warna rambut murni dipengaruhi oleh ketersediaan pigmen melanin serta kesehatan sel punca melanosit di akar rambut, sehingga kehadiran uban tidak bisa dijadikan acuan untuk menilai atau memprediksi risiko penyakit kanker pada seseorang.
Anggapan bahwa pertumbuhan uban merupakan sinyal bahwa tubuh sedang secara aktif bertarung melawan kanker adalah mitos medis yang keliru. Warna rambut murni dipengaruhi oleh ketersediaan pigmen melanin serta kesehatan sel punca melanosit di akar rambut, sehingga kehadiran uban tidak bisa dijadikan acuan untuk menilai atau memprediksi risiko penyakit kanker pada seseorang.















