Semarang (PANTURATV.ID) - Di kawasan Asia Selatan dan beberapa wilayah Barat, praktik sun gazing atau menatap matahari secara langsung saat fajar atau senja belakangan ini kembali beredar luas. Banyak praktisi gaya hidup alternatif mengklaim bahwa kebiasaan menatap sang surya tanpa pelindung mata dapat meningkatkan energi tubuh, memperbaiki kualitas tidur, hingga menstimulasi kelenjar di dalam otak. Narasi mengenai manfaat spiritual dan kebugaran ini terus disebarkan secara masif di berbagai platform media digital hingga memicu rasa penasaran masyarakat luas.
Meski sekilas terdengar alami dan tidak membutuhkan biaya, praktik ini memicu kekhawatiran mendalam dari komunitas medis global, khususnya para dokter spesialis mata. Menatap cahaya matahari secara langsung tanpa filter perlindungan yang memadai sangat bertentangan dengan prinsip keselamatan organ penglihatan. Radiasi sinar ultraviolet (UV) yang dipancarkan oleh matahari tetap memiliki intensitas yang sangat kuat dan sangat berbahaya bagi jaringan sensitif di bagian dalam bola mata manusia.
Dampak negatif paling nyata dari kebiasaan ini adalah risiko terjadinya kerusakan permanen pada retina yang dikenal sebagai retinitis solaris. Saat seseorang menatap ke arah sumber cahaya yang sangat terang, energi radiasi akan terfokus tepat pada bagian makula, yaitu area pusat penglihatan di dalam mata. Paparan panas dan radiasi tersebut dapat membakar sel-sel saraf sensitif di retina hanya dalam hitungan detik. Tragisnya, kerusakan pada jaringan sel ini sering kali tidak menimbulkan rasa sakit secara langsung pada saat kejadian.
Dampak dari kerusakan tersebut baru akan dirasakan beberapa jam atau beberapa hari kemudian, di mana penderita mulai melihat titik hitam permanen di tengah penglihatannya. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas penglihatan secara drastis dan dalam banyak kasus bersifat ireversibel atau tidak dapat disembuhkan kembali. Penggunaan kacamata hitam biasa pun sering kali tidak cukup kuat untuk menahan intensitas radiasi langsung jika mata dipaksa menatap pusat cahaya matahari dalam durasi yang lama.
Berdasarkan pertimbangan medis tersebut, para pakar kesehatan mengimbau publik untuk membedakan antara berjemur secara aman dan menatap matahari secara langsung. Manfaat vitamin D serta pengaturan ritme sirkadian tubuh bisa didapatkan hanya dengan membiarkan sinar matahari mengenai kulit atau berada di luar ruangan tanpa harus menatap langsung ke arah matahari. Menjaga kesehatan mata harus tetap menjadi prioritas utama ketimbang mempertaruhkan penglihatan demi klaim gaya hidup yang belum teruji secara ilmiah.















