LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Hubungan Erat antara Kesehatan Rongga Mulut dan Kesejahteraan Mental Anak

Oleh Alfira Aufa
9 Juli 2026
2 menit baca

Penelitian C.S. Mott Children's Hospital 2025 mengungkapkan 36% anak mengalami masalah gigi yang berdampak pada kesehatan mental. Gigi rusak menjadi sasaran perundungan di sekolah, menyebabkan anak kehilangan percaya diri hingga mengalami depresi.

Hubungan Erat antara Kesehatan Rongga Mulut dan Kesejahteraan Mental Anak

Semarang (PANTURATV.ID) - Banyak orang mengira bahwa merawat kebersihan gigi dan mulut hanya bertujuan untuk mencegah gigi berlubang atau menjaga agar aroma napas tetap segar. Namun, realitasnya jauh lebih mendalam karena kondisi kesehatan mulut ternyata memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap kesehatan mental seseorang. Berdasarkan jajak pendapat nasional mengenai kesehatan anak yang dilakukan oleh C.S.

Mott Children’s Hospital pada tahun 2025, yang melibatkan ribuan orang tua dengan anak berusia empat hingga tujuh belas tahun, ditemukan korelasi kuat antara rutinitas harian dengan kondisi psikologis anak.

Data dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tiga puluh enam persen anak mengalami berbagai gangguan mulut seperti nyeri, perubahan warna gigi, gigi berlubang, hingga masalah gusi dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Ironisnya, kesadaran untuk membangun kebiasaan baik masih minim. Hanya tiga dari lima orang tua yang benar-benar memastikan anak mereka menyikat gigi dua kali sehari secara rutin. Selain itu, anak laki-laki cenderung lebih abai dalam membersihkan gigi dibandingkan anak perempuan. Masalah bau mulut juga sering kali disepelekan oleh orang tua karena dianggap sebagai hal yang biasa terjadi saat bangun tidur, padahal itu bisa menjadi tanda awal dari minimnya perawatan.

happy-little-asian-boy-smiling-face-portrait-scaled-e1733449310160.jpg

Jika diabaikan, masalah ini akan memicu komplikasi medis yang serius. Dokter gigi Kami Hoss menjelaskan bahwa selain gigi berlubang dan radang gusi, masalah besar lainnya adalah ketidakseimbangan mikrobioma atau ekosistem bakteri di dalam mulut. Kondisi ini dapat memicu bau mulut kronis dan kerusakan gigi yang terus berulang meskipun anak sudah menyikat gigi.

Dampak paling memprihatinkan dari kerusakan gigi ini justru menyerang stabilitas emosional dan mental anak. Sebuah studi menunjukkan bahwa penampilan gigi merupakan sasaran utama perundungan di lingkungan sekolah.

Anak-anak yang sering diejek karena senyum atau bentuk gigi mereka akan kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosial, merasa benci untuk pergi ke sekolah, hingga mengalami depresi.

Tidak hanya itu, rasa sakit konstan akibat gigi berlubang yang tidak diobati membuat anak hidup dalam ketidaknyamanan setiap hari. Rasa sakit ini menguras energi emosional mereka, sehingga anak menjadi mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan temperamental. Dr. Hoss bahkan menceritakan pengalamannya menemukan kasus anak-anak yang salah didiagnosis mengalami gangguan perilaku, padahal akar masalah sebenarnya hanyalah sakit gigi kronis yang tidak kunjung ditangani.

Tantangan anak zaman sekarang juga semakin kompleks akibat gaya hidup modern dan media sosial. Di satu sisi, pengetahuan orang tua tentang kesehatan mulut memang meningkat. Di sisi lain, pola makan anak memburuk dengan banyaknya konsumsi makanan olahan, camilan manis, dan minuman asam. Tekanan psikologis pun bertambah akibat paparan dunia maya yang membuat anak-anak sangat cemas akan penampilan fisik mereka sejak usia dini. Bahkan, ada pasien yang masih berusia delapan tahun sudah meminta prosedur pemutihan gigi akibat ekspektasi tidak realistis yang mereka lihat di media sosial.

Kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika atau fungsi mengunyah belaka, melainkan sebuah fondasi krusial bagi pembentukan karakter, rasa percaya diri, serta kesehatan mental anak yang membutuhkan perhatian serius dan konsisten dari orang tua sejak dini.

Tags

#kesehatan gigi anak#kesehatan mulut#kesejahteraan mental anak#perundungan sekolah#dokter gigi Semarang#kesehatan anak Jawa Tengah#kebersihan gigi anak#depresi anak#kesehatan mental anak#Semarang#perawatan gigi anak#Jawa Tengah#dokter gigi

Tentang Penulis

Alfira Aufa

Penulis

Belum ada bio untuk penulis ini.

10 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori