Semarang (PANTURATV.ID) - Indonesia memiliki catatan kelam mengenai bencana alam luar biasa pada masa lalu. Salah satu peristiwa paling mengerikan adalah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Bencana alam mematikan ini menghancurkan sebagian besar pulau dan memicu gelombang tsunami raksasa. Akibatnya, puluhan ribu penduduk pesisir tewas tersapu oleh gelombang laut yang sangat tinggi. Peristiwa alam ini bahkan mengubah iklim global selama beberapa tahun setelah kejadian berlangsung.
Selanjutnya, suara ledakan dari letusan dahsyat Gunung Krakatau terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya. Catatan sejarah menyebutkan bahwa warga di Benua Australia dan Mauritius mendengar dentuman tersebut. Material vulkanik terbang tinggi hingga mencapai lapisan stratosfer dan menutupi sinar matahari. Oleh karena itu, suhu bumi mengalami penurunan yang sangat signifikan selama beberapa waktu. Gelapnya langit bahkan menciptakan fenomena matahari terbenam berwarna merah darah di Benua Eropa.
Selain itu, letusan ini memicu gelombang tsunami setinggi lebih dari tiga puluh meter. Gelombang air raksasa ini menyapu pesisir Banten dan Lampung dengan sangat cepat sekali. "Tsunami menghancurkan lebih dari seratus enam puluh lima desa di sekitar Selat Sunda," ujar ahli geologi. Beliau menambahkan bahwa kekuatan alam ini tidak memberi kesempatan warga untuk melarikan diri. Alhasil, lebih dari tiga puluh enam ribu jiwa melayang akibat bencana mengerikan ini.

Di samping itu, abu vulkanik menyebar luas hingga mengelilingi bumi berminggu-minggu lamanya. Partikel debu ini memantulkan radiasi matahari sehingga bumi kehilangan suhu panas secara alami. Padahal, wilayah Eropa sedang mengalami musim panas yang seharusnya bersuhu cukup hangat. Kemudian, kondisi iklim dunia menjadi sangat kacau dan memengaruhi hasil panen para petani. Banyak negara akhirnya mengalami krisis pangan parah akibat gagal panen selama beberapa musim.
Meskipun demikian, sisa-sisa kehancuran tersebut kini melahirkan gunung baru bernama Anak Krakatau. Gunung muda ini terus tumbuh dan memperlihatkan aktivitas vulkanik secara cukup rutin. Oleh sebab itu, para ilmuwan selalu memantau perkembangan aktivitas gunung ini dengan ketat. Mereka berharap sistem peringatan dini bisa mencegah jatuhnya korban jiwa di masa depan. Kesimpulannya, manusia harus selalu bersikap waspada terhadap kekuatan alam yang sangat sulit terprediksi.












