Turki (PANTURATV.ID) - Jika di banyak negara berkembang anjing dan kucing liar sering dianggap sebagai hama atau diabaikan di jalanan, pemandangan yang sepenuhnya berlawanan akan kamu temui di Turki. Di negara ini, hewan jalanan yang dikenal dengan sebutan sokak hewanları tidak dianggap sebagai pengganggu, melainkan bagian sah dari komunitas perkotaan. Warga lokal merawat mereka secara kolektif dengan tingkat kepedulian yang luar biasa tinggi.
Di sepanjang trotoar, taman kota, hingga sudut-sudut pertokoan di Istanbul dan kota besar lainnya, dengan mudah ditemui rumah-rumah kecil berbahan kayu atau plastik yang sengaja dibangun untuk tempat tidur kucing dan anjing liar. Tempat makan dan minum otomatis atau wadah bersih selalu terisi penuh oleh makanan kering yang dibeli warga menggunakan uang pribadi. Pemerintah daerah setempat bahkan rutin melakukan vaksinasi, sterilisasi, serta pemasangan tag di telinga anjing liar untuk memastikan kesehatan mereka terpantau.
Perlakuan hangat ini sangat berbeda dengan dinamika keberadaan hewan liar di Indonesia, yang kerap kali masih menghadapi ancaman penertiban atau keusilan warga. Di Turki, sangat biasa melihat seekor kucing tidur dengan tenang di atas kursi kafe yang mahal atau di atas tumpukan pakaian di toko fashion tanpa ada karyawan yang mengusirnya. Pelanggan justru akan memilih duduk di kursi lain demi tidak mengganggu tidur si kucing.
Budaya menyayangi hewan jalanan ini berakar kuat dari kombinasi ajaran agama dan penghormatan terhadap alam yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Orang Turki percaya bahwa berbagi ruang hidup dengan makhluk lain adalah tanda kedewasaan sebuah peradaban. Keberadaan hewan-hewan ini diyakini membawa ketenangan dan keberkahan tersendiri bagi lingkungan sekitarnya.
Keharmonisan antara manusia dan hewan liar di Turki ini menciptakan pemandangan kota yang sangat unik dan humanis. Turis asing sering kali dibuat heran sekaligus kagum melihat anjing-anjing berukuran besar berjalan santai menyeberang jalan di penyeberangan pejalan kaki bersama warga. Fenomena ini menunjukkan bahwa kehidupan perkotaan yang modern tetap bisa berjalan beriringan dengan kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup.















