Temuan tiga jenis bakteri pada sisa menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara, kembali menarik perhatian masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara mengungkap adanya bakteri Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada olahan ikan, dan Escherichia coli (E. coli) pada buah melon. Kasus ini menjadi alarm penting bahwa penyediaan makanan bergizi harus berjalan seiring dengan penerapan standar keamanan pangan yang ketat, mulai dari tahap penanganan awal hingga dikonsumsi oleh anak-anak.
Pakar Ilmu Gizi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, M.Kes., menekankan bahwa potensi pencemaran dapat terjadi di setiap titik alur penyediaan makanan. Oleh sebab itu, berbagai langkah pencegahan perlu diterapkan secara cermat.
Pertama, kualitas bahan baku harus diperhatikan sejak awal. Bahan sumber protein seperti daging dan ikan sangat rentan mengalami pembusukan jika dibiarkan di suhu ruangan terlalu lama. Penanganan dan penyimpanan awal harus sesuai dengan sifat bahan pangan tersebut.
Kedua, sistem penyimpanan harus memisahkan bahan mentah seperti daging, buah, dan sayuran agar tidak ditempatkan bersamaan tanpa sekat. Langkah ini krusial untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang. Kapasitas dan pengaturan suhu ruang simpan juga wajib disesuaikan.
Ketiga, faktor kebersihan selama pemrosesan dan pengolahan makanan memegang peranan besar. Meskipun proses memasak dengan suhu yang tepat dapat membunuh bakteri, kebersihan juru masak tetap menjadi faktor utama. Tangan yang tidak bersih sering kali menjadi sarana perpindahan bakteri seperti Staphylococcus aureus.
Keempat, tahap pembagian porsi dan pengemasan juga tergolong rawan. Kebersihan alat makan, permukaan meja kerja, air yang digunakan untuk mencuci, hingga higiene pengemas makanan harus selalu dipantau.
Kelima, proses distribusi makanan tidak boleh diabaikan. Makanan olahan basah idealnya segera dikonsumsi. Makanan yang dibiarkan pada suhu ruangan hanya bertahan aman sekitar empat jam sebelum bakteri berkembang cepat. Oleh karena itu, waktu selesai dimasak perlu dicatat untuk memantau durasi pengiriman.
Keenam, kapasitas fasilitas dapur pembuat makanan harus seimbang dengan porsi yang diproduksi. Jika beban porsi melebihi kapasitas dapur dan tenaga kerja, proses masak berisiko dilakukan terlalu cepat atau terlalu jauh dari waktu konsumsi, sehingga membahayakan penerima manfaat.
Terakhir, masyarakat perlu mewaspadai gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare akibat paparan toksin bakteri. Jika terjadi diare atau muntah berulang, langkah awal yang sangat disarankan adalah segera memberikan cairan oralit guna mencegah dehidrasi parah. Apabila kondisi tidak membaik, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat
Pengawasan keamanan pangan pada program pemberian makan massal seperti Makan Bergizi Gratis tidak boleh ditawar sedikit pun. Setiap pihak yang terlibat dalam rantai pasok, mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan di dapur, pengemasan, hingga distribusi, wajib menerapkan standar higienitas dan sanitasi secara konsisten. Kelalaian sekecil apa pun di salah satu titik rantai pasok berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak sebagai penerima manfaat. Keselamatan dan kesehatan konsumen harus selalu menjadi prioritas utama di atas mengejar target porsi semata.















