Semarang (PANTURATV.ID) - Anda mungkin sering melihat fenomena unik saat dua ekor anabul merawat satu sama lain. Masyarakat awam sering menyebut perilaku kucing saling jilat tanda sayang yang tulus antarindividu. Mereka menganggap kebiasaan bernama allogrooming tersebut sekadar bentuk interaksi sosial biasa. Namun, ilmu pengetahuan modern kini mengungkap fakta yang jauh lebih kompleks dan mengejutkan. Peneliti mulai meragukan pandangan tradisional tentang perilaku saling membersihkan tubuh tersebut. Bahkan, studi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas ini tidak selalu bermakna persahabatan murni. Oleh karena itu, kita perlu memahami lebih dalam ragam bahasa tubuh hewan menggemaskan ini.
Morgane Van Belle bersama sejumlah peneliti dari Ghent University telah melakukan observasi mendalam. Mereka menganalisis banyak video interaksi harian dari puluhan rumah yang memelihara beberapa anabul. Selanjutnya, hasil riset mereka memunculkan berbagai perspektif baru mengenai motif di balik allogrooming. Ahli perilaku hewan tersebut mendapati bahwa kucing sering mengarahkan jilatannya pada area telinga.

"Hal ini mungkin dapat membantu kucing rileks karena kulit di sana kaya akan ujung saraf sensorik," kata Van Belle menjelaskan temuan risetnya. Meskipun demikian, tim peneliti belum berani menyimpulkan bahwa kucing saling jilat tanda sayang secara mutlak. Sebaliknya, perilaku ini kadang memicu ketegangan ketika anabul berebut wilayah atau tempat tidur favorit mereka.
Sementara itu, beberapa pakar lain juga menyoroti aspek kebersihan fisik dan penentuan hierarki sosial. Jilatan pada area kepala terbukti sangat membantu hewan menjangkau bagian tubuh yang cukup sulit. Dr. Terry Curtis turut memberikan pandangannya tentang fenomena allogrooming yang masih memendam banyak misteri tersebut. "Penjelasan mengenai allogrooming yang diajukan Van Belle dan timnya masih berupa kemungkinan yang masuk akal," ucap Dr. Terry Curtis menanggapi kerumitan bahasa tubuh hewan peliharaan. Oleh sebab itu, pemilik hewan sebaiknya mengamati seluruh gestur anabul secara lebih komprehensif. Kadang-kadang, aktivitas menjilat ini murni berfungsi meredakan potensi konflik atau sekadar undangan bermain santai.
Kesimpulannya, Anda jangan langsung menilai jilatan tersebut sebagai wujud persahabatan yang sangat damai. Selain berfungsi meredakan ketegangan, tindakan ini sesekali berubah menjadi perkelahian yang cukup mengejutkan. Anabul bisa tiba-tiba saling mencengkeram erat menggunakan kaki depan sesudah mereka menjilat punggung temannya. Akibatnya, mereka akan berguling-guling bersama dalam sebuah permainan yang terlihat sedikit agresif atau kasar.

Di sisi lain, gigitan kecil saat proses grooming mungkin bermakna sebagai sebuah ancaman yang halus. Kucing dominan biasanya memanfaatkan trik ini untuk memperingatkan anabul lain di area kekuasaannya. Pada akhirnya, kita menyadari betapa rumitnya sistem komunikasi antaranggota kelompok kucing di dalam rumah.















