China (PANTURATV.ID) - Para ahli medis dan ilmuwan di Tiongkok mengidentifikasi keberadaan patogen baru yang ditularkan melalui gigitan serangga kutu. Virus ini secara resmi dinamai Asian longhorned tick nairovirus atau disingkat ALTNV. Penemuan klinis mengenai patogen tersebut dilaporkan secara luas dalam jurnal medis internasional, The New England Journal of Medicine. Kasus ini bermula dari pengamatan terhadap sejumlah pasien yang menunjukkan gejala demam tinggi khas infeksi kutu, namun pengujian laboratorium awal tidak mendeteksi adanya Dabie bandavirus atau patogen pemicu Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome yang biasa ditemukan pada kasus serupa.
Langkah penelitian kemudian dilanjutkan dengan analisis genomik tingkat lanjut menggunakan pengurutan materi genetik serta pemisahan sampel patogen. Lewat rangkaian pengujian ketat tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi agen penyebab penyakit yang ternyata tergolong dalam genus Orthonairovirus di bawah famili Nairoviridae. Untuk mengukur sejauh mana sebaran infeksi ini, riset skala besar dilakukan terhadap ribuan pasien di berbagai wilayah Tiongkok yang memiliki riwayat kontak atau gigitan kutu. Hasil pengujian darah menunjukkan bahwa sebagian dari pasien tersebut terkonfirmasi positif terinfeksi ALTNV berdasarkan keberadaan materi genetik RNA maupun antibodi spesifik dalam tubuh mereka.
Secara klinis, seseorang yang terpapar patogen ini dapat mengalami serangkaian keluhan fisik yang mirip dengan gejala flu, seperti demam mendadak, pusing, serta rasa lemas. Penulatan virus ini ditenggarai terjadi ketika kutu pembawa patogen menggigit kulit manusia dan menularkan agen infeksius ke dalam aliran darah. Meskipun sebagian besar pasien menunjukkan respons klinis yang membaik setelah mendapatkan perawatan medis, penemuan ini menjadi peringatan penting bagi dunia kesehatan global untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan oleh vektor arthropoda.
Penemuan patogen baru ALTNV menjadi pengingat penting bagi masyarakat dunia dan otoritas kesehatan global akan potensi ancaman penyakit bawaan vektor serangga. Meskipun riset mengenai pola penularannya masih terus berkembang, langkah pencegahan seperti menghindari paparan gigitan kutu di area bersemak atau hutan serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan penanganan awal yang sangat krusial guna menekan risiko penularan infeksi ini secara lebih meluas.












