Semarang (PANTURATV.ID) - Banyak orang dewasa merasa sangat canggung, tidak nyaman, atau bahkan takut ketika harus menyampaikan apa yang mereka butuhkan kepada orang lain. Baik dalam hubungan dengan pasangan, sahabat, maupun rekan kerja, keinginan untuk mengungkapkan perasaan atau kebutuhan emosional sering kali tertahan oleh rasa cemas yang mendalam. Kebanyakan orang menduga bahwa kondisi ini timbul karena sifat pemalu, egois, atau ketidakmampuan seseorang dalam menjalin hubungan sosial. Namun, pandangan para ahli psikologi menunjukkan hal yang berbeda. Kesulitan ini pada umumnya berakar dari pola pengasuhan serta lingkungan keluarga tempat seseorang tumbuh sewaktu kecil.
Pengalaman hidup di dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis atau disfungsional dapat meninggalkan bekas luka batin yang membawa pengaruh hingga usia dewasa. Bentuk ketidakharmonisan keluarga ini beragam, mulai dari pengabaian emosional, sikap orang tua yang terlalu kritis, suka mengontrol, hingga pola pengasuhan yang mengekang. Ketika seorang anak dibesarkan dalam situasi yang kurang menghargai batasan dan perasaan pribadi, secara tidak langsung anak tersebut menyerap pesan bahwa keinginan dirinya bukanlah hal yang penting untuk didengar atau dipedulikan oleh orang lain.
Sebagai bentuk penyesuaian diri untuk bertahan di tengah situasi yang tidak mendukung tersebut, anak-anak biasanya berkembang menjadi individu yang sangat peka terhadap respons orang-orang di sekitarnya. Mereka membiasakan diri untuk selalu menebak suasana hati orang lain, selalu mengalah, serta menghindari konflik dengan cara menekan keinginan pribadi demi menjaga ketenangan di dalam rumah. Walaupun strategi ini berfungsi dengan baik untuk melindungi diri semasa kanak-kanak, kebiasaan tersebut justru menjadi kendala besar saat memasuki usia dewasa.

Ketika beranjak dewasa, kebiasaan memendam keinginan tersebut berubah menjadi rasa bersalah dan kecemasan hebat setiap kali hendak bersuara. Muncul ketakutan yang besar akan timbulnya penolakan, kritik, serta kemungkinan mengecewakan orang lain. Keinginan untuk mengungkapkan kebutuhan emosional maupun fisik terasa sebagai suatu tindakan yang penuh risiko karena membuat seseorang merasa sangat rentan. Pada akhirnya, individu tersebut lebih memilih untuk diam karena menganggap bahwa suaranya tidak akan membuat perubahan apa pun, sekaligus khawatir akan dicap terlalu banyak menuntut atau menyusahkan lingkungan sekitarnya. Hal ini membuat seseorang kesulitan membela diri sendiri dan sulit menjalin hubungan sosial yang benar-benar memuaskan.
Kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhan diri secara terbuka merupakan hak setiap individu yang sangat penting bagi kesehatan emosional, sehingga menyadari dan memulihkan luka pengasuhan masa lalu adalah langkah awal untuk berani menyuarakan isi hati tanpa rasa takut maupun bersalah.












