LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Tantangan Besar Diabetes Tak Terdeteksi dan Ancaman Kebutaan Bagi Masyarakat Indonesia

Oleh Alfira Aufa
21 Juli 2026
2 menit baca

Lebih dari 73% penderita diabetes di Indonesia belum terdiagnosis, menjadi hambatan serius dalam pengendalian penyakit ini. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan retinopati diabetik.

Tantangan Besar Diabetes Tak Terdeteksi dan Ancaman Kebutaan Bagi Masyarakat Indonesia

Semarang (PANTURATV.ID) - Tingkat penderita diabetes yang belum terdiagnosis di Indonesia berada pada angka yang sangat memprihatinkan. Lebih dari tujuh puluh tiga persen pengidap penyakit ini tidak menyadari bahwa tubuh mereka sedang mengalami gangguan kadar gula darah. Kebanyakan orang baru mengetahui kondisi kesehatannya ketika berobat untuk penyakit lain atau bahkan saat terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi gawat darurat. Situasi ini dijelaskan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Em Yunir, sebagai salah satu hambatan paling berat dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular di tanah air.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi diabetes di tanah air terus merangkak naik. Saat ini diperkirakan satu dari sepuluh penduduk Indonesia hidup dengan kondisi diabetes. Lembaga International Diabetes Federation juga mencatat bahwa jumlah penyandang gangguan gula darah di Indonesia telah menembus angka lebih dari dua puluh juta orang dan diproyeksikan melonjak melebihi tiga puluh juta jiwa pada tahun dua ribu empat puluh lima jika tidak ada penanganan yang masif.

Kadar gula darah yang tidak terdeteksi dan tidak terkontrol dapat mempercepat tingkat kerusakan pada berbagai organ tubuh. Analogi yang menggambarkan kondisi ini mirip dengan argometer taksi yang bergerak kian cepat seiring tingginya kadar gula darah seseorang. Situasi diperparah karena diabetes sering kali hadir bersamaan dengan faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kegemukan, hingga kebiasaan merokok. Kombinasi ini memicu timbulnya komplikasi berat, seperti serangan jantung, gagal ginjal kronis yang mengharuskan cuci darah, hingga kerusakan retina mata atau retinopati diabetik.

e62b2d0b-e4ed-4d2f-aebe-66f9f7e701c4.webp

Ancaman kebutaan akibat retinopati diabetik menjadi sorotan Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada, Muhammad Bayu Sasongko. Beliau menekankan agar masyarakat membuang anggapan bahwa penglihatan kabur adalah hal biasa akibat penuaan atau dampak wajar dari diabetes. Sikap memaklumi tersebut justru membuat pasien terlambat mencari bantuan medis hingga mengalami kebutaan permanen. Padahal, risiko kehilangan penglihatan sebenarnya sangat dapat dicegah apabila penderita menjalani pemeriksaan mata berkala dan mendapatkan perawatan sejak dini.

Guna menekan tingginya komplikasi, Kementerian Kesehatan bersama Universitas Gadjah Mada dan pihak Roche Indonesia melakukan kolaborasi untuk memperluas cakupan deteksi dini. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat skrining gula darah gratis serta memperluas fasilitas pemeriksaan retina di tingkat Puskesmas agar komplikasi dapat dicegah sedini mungkin.

Tingginya angka penderita diabetes yang tidak terdiagnosis di Indonesia merupakan ancaman serius yang membutuhkan perhatian bersama. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala masih sangat rendah, ditambah dengan kebiasaan umum yang baru berobat setelah timbul komplikasi parah. Kebutaan akibat retinopati diabetik maupun risiko gagal ginjal bukan sekadar masalah medis individu, melainkan beban sosial dan ekonomi yang nyata bagi keluarga serta sistem kesehatan nasional. Oleh karena itu, penguatan edukasi publik mengenai deteksi dini dan penyediaan fasilitas skrining yang mudah diakses hingga tingkat Puskesmas harus menjadi prioritas utama. Penanganan diabetes tidak boleh lagi bersifat reaktif, melainkan harus berfokus pada pencegahan sebelum kerusakan organ terjadi.

Tags

#diabetes Indonesia#retinopati diabetik#kesehatan mata#penyakit tidak menular#Semarang#Jawa Tengah#deteksi diabetes#komplikasi diabetes#kebutaan#kesehatan masyarakat#kebutaan diabetes#kesehatan Jawa Tengah#diabetes tak terdeteksi#Muhammad Bayu Sasongko#pencegahan diabetes#kesehatan masyarakat Indonesia#gula darah tinggi

Tentang Penulis

Alfira Aufa

Penulis

Belum ada bio untuk penulis ini.

50 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori