Semarang (PANTURATV.ID) - Banyak ibu rumah tangga menggunakan micin setiap hari untuk melezatkan berbagai macam masakan rumahan. Namun, sebagian masyarakat sering mempercayai mitos micin bikin bodoh tanpa mencari kebenaran faktanya terlebih dahulu. Cerita keliru ini bermula dari laporan kesehatan bernama "Chinese Restaurant Syndrome" pada era tahun 1960-an. Saat itu, beberapa orang mengeluhkan pusing dan mual setelah menyantap makanan lezat dari restoran China. Kemudian, media massa setempat langsung menyalahkan MSG secara sepihak tanpa melakukan riset ilmiah yang mendalam. Akibatnya, cerita tersebut berkembang liar dan berubah menjadi anggapan negatif yang sangat ekstrem di masyarakat.
Selanjutnya, kita bisa melihat kebiasaan konsumsi warga negara Asia Timur sebagai bukti nyata yang valid. Penduduk negara Jepang dan Korea Selatan rutin mengonsumsi banyak MSG untuk campuran makanan setiap harinya. Bahkan, warga negara China menyantap micin jauh lebih banyak daripada penduduk benua Eropa maupun Amerika. Sebaliknya, tingkat kecerdasan kognitif penduduk di negara-negara maju tersebut justru menempati peringkat yang sangat memukau. Negara Jepang sukses mencatatkan rata-rata IQ sebesar 106,48 berdasarkan laporan data penelitian resmi saat ini. Oleh karena itu, fakta kuat ini sukses mematahkan anggapan bahwa konsumsi MSG menurunkan kecerdasan kognitif manusia.

Selain itu, para pakar gizi terkemuka juga memberikan pandangan ilmiah murni mengenai masalah kesehatan ini. Dokter Johanes Chandrawinata menegaskan bahwa semua lapisan masyarakat harus segera meninggalkan mitos micin bikin bodoh. Menurut beliau, kebiasaan malas belajar justru memberikan dampak yang lebih buruk pada tingkat kecerdasan anak. Selanjutnya, sebuah riset medis terbaru menguji dampak langsung MSG terhadap para pasien penderita penyakit demensia. Hasil eksperimen klinis tersebut sukses membuktikan bahwa takaran MSG wajar sama sekali tidak merusak fungsi otak. Menariknya, asupan gizi ini justru berpotensi sangat baik untuk mempertahankan fungsi memori tertentu pada tubuh pasien.
Sebelumnya, Anda juga perlu mengetahui asal mula penciptaan bahan penyedap rasa yang sangat populer ini. Banyak pabrik modern memproduksi micin menggunakan bahan alami seperti tetes tebu melalui tahapan proses fermentasi. Bakteri pengurai tertentu memakan karbohidrat alami dan berhasil menghasilkan zat glutamat yang sangat aman bagi tubuh. Dokter Rita Ramayulis menyatakan secara tegas bahwa glutamat merupakan komponen asam amino esensial yang bergizi. Meskipun mitos micin bikin bodoh menyebarkan informasi keliru, Anda tetap wajib membatasi jumlah asupan harian. Organisasi Kesehatan Dunia selalu merekomendasikan batas aman maksimal sebanyak 120 miligram per kilogram berat badan Anda. Oleh sebab itu, Anda harus rutin mengontrol penggunaan penyedap rasa harian agar kondisi tubuh tetap bugar.















