Semarang (PANTURATV.ID) - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar global secara signifikan. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak sekitar tujuh persen pada akhir perdagangan hari Rabu. Kenaikan drastis ini mencerminkan kepanikan para pelaku pasar terhadap ancaman gangguan pasokan energi. Oleh karena itu, para investor terus memantau perkembangan situasi keamanan di area tersebut. Serangan udara terbaru di wilayah kaya minyak itu memperburuk krisis pasokan secara langsung.
Selanjutnya, data pemerintah Amerika Serikat juga memberikan dorongan tambahan terhadap tren kenaikan ini. Laporan terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah domestik turun ke level terendah sejak 2018. Sementara itu, harga minyak dunia melonjak secara konsisten menyusul eskalasi konflik yang memanas. Harga minyak mentah Brent naik hampir delapan persen menjadi 90,74 dollar per barrel. Di sisi lain, harga West Texas Intermediate menguat mencapai 84,46 dollar per barrel.

Eskalasi bermula setelah militer Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan balasan strategis. Mereka menargetkan kelompok dukungan Iran yang beroperasi secara aktif di wilayah negara Irak. Sebagai balasan, militer Iran mengaku telah menembaki kapal komersial di perairan Selat Hormuz. Selain itu, situasi memanas di Mesir ketika ledakan mengguncang sebuah pelabuhan pemuatan gas. Perusahaan keamanan maritim Inggris melaporkan insiden serangan pesawat nirawak di fasilitas penting tersebut.
Para ahli pasar energi langsung memberikan analisis terkait dinamika harga komoditas strategis ini. "Pasar dengan cepat kembali memperhitungkan peningkatan risiko terhadap pasokan minyak di kawasan tersebut," ujar John Kilduff, Mitra Again Capital. Kepala Riset Energi DBS Bank Suvro Sarkar juga memproyeksikan fluktuasi harga akan berlanjut. Menurutnya, pasar masih rentan selama pihak terkait belum mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen. Oleh sebab itu, tren harga kemungkinan besar tetap tinggi dalam beberapa pekan mendatang.

Lebih lanjut, lalu lintas pelayaran kapal pengangkut komoditas di Selat Hormuz sangat terbatas. Kelompok Houthi bahkan berencana menerapkan tarif bagi kapal komersial di perairan Laut Merah. Rute alternatif pengiriman energi menuju kawasan Asia mengalami hambatan yang sangat berarti sekarang. Pada saat yang sama, otoritas China menggelar pembicaraan langsung dengan kelompok pemberontak tersebut. Langkah diplomasi ini bertujuan melindungi kapal tanker mereka dari ancaman serangan militer dadakan.












