LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Mengenal Silikosis dan Potensi Bahayanya Akibat Terpapar Abu Erupsi Gunung Berapi

Oleh Alfira Aufa
9 September 2026
2 menit baca

Masyarakat Jawa Barat dan Jakarta perlu waspada terhadap risiko silikosis akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Senyawa silika dalam debu dapat merusak paru-paru secara bertahap.

Mengenal Silikosis dan Potensi Bahayanya Akibat Terpapar Abu Erupsi Gunung Berapi

Semarang (PANTURATV.ID) - Masyarakat di kawasan Jakarta dan wilayah Jawa Barat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Emisi debu yang terbawa oleh angin dapat menjangkau daerah pemukiman yang lokasinya cukup jauh dari titik erupsi utama. Fenomena ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga membawa risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Selain memicu keluhan pernapasan ringan seperti batuk dan iritasi tenggorokan, terdapat potensi penyakit paru berat yang dikenal sebagai silikosis akibat keberadaan senyawa silika dalam material abu tersebut.

Silikosis merupakan gangguan medis pada organ paru yang terjadi saat seseorang menghirup debu berkandungan silika secara konsisten atau dalam volume yang tinggi. Senyawa silika kristalin sendiri merupakan mineral alami yang lazim ditemukan pada bebatuan, pasir, maupun tanah. Dalam kondisi tertelan silika tidak menimbulkan bahaya serius, namun apabila terhirup ke dalam organ pernapasan dalam bentuk debu mikro, dampaknya bisa sangat merusak. Penyakit ini umumnya identik dengan profesi di sektor pertambangan, konstruksi, pemotongan batu, atau industri kaca yang terpapar material tersebut dalam hitungan bertahun-tahun.

Secara teknis, kerusakan paru terjadi karena ukuran partikel abu vulkanik sangat halus, yakni di bawah empat mikrometer. Ukuran yang teramat kecil ini memungkinkan partikel menembus hingga ke kantung udara atau alveolus di bagian dalam paru-paru. Menurut penjelasan praktisi kesehatan dari Rumah Sakit Paru Persahabatan, partikel silika yang mengendap dalam kurun waktu lama akan memicu reaksi pembentukan jaringan parut yang kaku atau fibrosis. Akibatnya, fleksibilitas paru-paru berkurang dan kemampuan organ ini untuk mengikat oksigen menjadi terganggu.

Meskipun abu vulkanik mengandung silika, bukan berarti paparan abu selama beberapa hari akan langsung menyebabkan silikosis secara mendadak. Perkembangan silikosis kronis pada umumnya membutuhkan durasi akumulasi paparan debu yang cukup lama, biasanya lebih dari satu dekade. Dalam jangka pendek, ancaman utama dari abu erupsi gunung berapi lebih didominasi oleh masalah iritasi pernapasan biasa, munculnya gejala batuk, serta risiko pemburukan penyakit bawaan seperti asma dan bronkitis.

Sebagai tindakan pencegahan medis, masyarakat yang terdampak disarankan untuk selalu meminimalkan kontak dengan udara luar. Penggunaan masker perlindungan yang tepat saat berada di luar rumah, pembatasan kegiatan luar ruangan, serta menutup rapat akses jendela dan pintu rumah merupakan langkah krusial untuk mencegah masuknya partikel mikro berbahaya ke dalam lingkungan tempat tinggal.

Meskipun ancaman silikosis kronis membutuhkan durasi akumulasi paparan yang relatif panjang, kewaspadaan dini terhadap bahaya partikel mikroskopis abu vulkanik tetap menjadi prioritas utama bagi kesehatan masyarakat. Memahami batas antara gangguan iritasi jangka pendek dan potensi kerusakan paru jangka panjang sangat penting agar masyarakat dapat mengambil tindakan perlindungan diri yang rasional, terukur, dan tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan.

Tags

#silikosis#erupsi gunung berapi#abu vulkanik#kesehatan pernapasan#Gunung Anak Krakatau#Jawa Barat#Jakarta#penyakit paru#fibrosis paru#debu silika#pencegahan kesehatan#bahaya lingkungan#Erupsi Gunung Anak Krakatau#kesehatan paru-paru#bahaya abu erupsi#penyakit pernapasan#silika kristalin#masker pelindung#Rumah Sakit Paru Persahabatan#erupsi Gunung Anak Krakatau

Tentang Penulis

Alfira Aufa

Penulis

Alfira adalah jurnalis di PanturaTV yang menulis seputar olahraga/gaya hidup/berita nasional. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat dan mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan.

187 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori