LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Membongkar Mitos Lele Goreng Melengkung. Benarkah Tanda Pakan Kotoran?

Oleh Lilis Anggraini
12 Juli 2026
3 menit baca

Mitos populer menyebutkan lele yang melengkung saat digoreng adalah tanda pakan kotoran. Pakar IPB University membongkar anggapan ini sebagai mitos tanpa landasan ilmiah.

Membongkar Mitos Lele Goreng Melengkung. Benarkah Tanda Pakan Kotoran?

Semarang (PANTURATV.ID) - Pernahkah Anda mendengar desas-desus yang menyebutkan bahwa ikan lele yang melengkung atau meringkuk saat digoreng adalah tanda bahwa ikan tersebut diternakkan dengan pakan kotoran (feses) manusia? Sebaliknya, banyak yang meyakini bahwa lele yang bentuknya tetap lurus usai digoreng merupakan lele yang sehat, higienis, dan diberi pakan berkualitas. Mitos ini sangat populer dan sering berseliweran di media sosial maupun menjadi bahan obrolan sehari-hari masyarakat. Namun, apakah bentuk fisik ikan setelah masuk ke wajan penggorengan benar-benar bisa menjadi indikator jenis pakannya?

Faktanya, anggapan tersebut hanyalah mitos belaka dan sama sekali tidak memiliki landasan ilmiah. Menilai kualitas atau riwayat pakan seekor lele tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat posturnya setelah digoreng matang. Alih-alih memperhatikan bentuknya setelah digoreng, konsumen seharusnya lebih jeli dalam mengamati kondisi fisik ikan lele saat masih mentah. Pakar budidaya perikanan dari IPB University, Cecilia Eny Indriastuti, menegaskan bahwa kualitas lele sangat bergantung pada penampakan fisiknya saat Anda membelinya di pasar.

  • Ciri-ciri ikan lele yang berkualitas baik dan sehat antara lain:

Postur Tubuh Proporsional, ukuran kepala ikan tidak lebih besar dibandingkan dengan ukuran badannya. Tubuhnya cenderung panjang dan berisi.

Daging yang Tebal, lele tidak tampak kurus, yang menandakan asupan gizinya selama masa budidaya sangat baik.

Warna dan Tekstur Kulit, memiliki warna hitam yang cerah dan merata, tidak belang-belang, serta tidak terlihat pucat.

Fisik Sempurna dan Segar, tidak terdapat luka atau cacat pada permukaan tubuhnya. Tekstur dagingnya terasa kenyal saat ditekan dan tidak mengeluarkan bau amis yang menyengat.

Fakta Biologis, mengapa Kotoran Manusia Bukan Pakan Ideal. Penjelasan dari platform edukasi kesehatan, Tentang Anak, juga turut menepis mitos pakan kotoran ini. Secara ilmu biologi, setiap makanan yang ditelan oleh lele akan masuk ke dalam sistem pencernaan dan dirombak menjadi molekul-molekul dasar, seperti asam lemak dan asam amino. Oleh karena itu, bentuk akhir fisik ikan saat disajikan tidak ada kaitannya secara langsung dengan wujud makanan yang pernah ia konsumsi.

Lebih jauh lagi, kotoran manusia sejatinya bukanlah sumber makanan yang ideal untuk kelangsungan hidup ikan lele. Komposisi feses manusia didominasi oleh air (sekitar 75 persen). Sementara itu, sisa 25 persennya hanyalah ampas berupa serat, mikroorganisme, dan sisa metabolisme yang nilai nutrisinya amat sangat rendah bagi ikan.

Jika seorang peternak hanya mengandalkan feses sebagai pakan, ikan lele tidak akan mendapatkan asupan gizi yang cukup. Akibatnya, lele tidak akan tumbuh optimal, dagingnya akan kurus, dan pertumbuhannya terhambat. Untuk menghasilkan daging yang tebal dan sehat, lele mutlak membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang tinggi.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat tubuh lele bisa melengkung hingga menyerupai huruf 'C' saat digoreng? Jawabannya murni terletak pada faktor teknis pengolahan di dapur serta komposisi tubuh ikan itu sendiri. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

fromandroid-5fde6e0c2d2cb452685114a5a38b90af.webp
  1. Kandungan Lemak pada Ikan. Lele yang memiliki kadar lemak tinggi akan mengalami proses penyusutan ketika dihadapkan pada suhu panas minyak. Lemak yang mencair secara cepat inilah yang menarik jaringan otot ikan sehingga tubuhnya tampak melengkung atau meringkuk.
  1. Suhu Minyak Terlampau Panas. Menggoreng dengan minyak yang bersuhu terlalu tinggi membuat lapisan luar (kulit) lele matang dan mengerut lebih cepat dibandingkan bagian dalam dagingnya. Perbedaan kecepatan matang ini memicu tarikan otot yang membuat lele tertekuk.
  1. Ukuran Wajan yang Tidak Memadai. Penggunaan wajan yang terlalu kecil akan memaksa tubuh lele yang panjang menjadi tertekuk secara alami mengikuti kelengkungan dasar wajan selama proses penggorengan.
  1. Efek Penyimpanan di Freezer: Ikan lele yang disimpan terlalu lama di dalam lemari pembeku akan mengalami perubahan struktur jaringan otot dan daging. Saat dicairkan dan digoreng, perubahan jaringan ini sering kali membuat dagingnya berkontraksi kaku.
  1. Faktor Lingkungan Budidaya: Kondisi kepadatan populasi ikan di dalam kolam serta kualitas air selama masa pemeliharaan juga dapat memengaruhi postur fisik asli ikan sebelum dimasak.

Kesimpulannya, bentuk lele yang melengkung setelah digoreng hanyalah reaksi fisika dan kimiawi yang wajar akibat proses pemanasan ekstrem, bukan merupakan bukti bahwa ikan tersebut dibesarkan dengan pakan kotoran manusia.

Tags

#lele goreng melengkung#mitos lele kotoran#budidaya lele sehat#ikan lele berkualitas#pakan lele#Semarang berita#IPB University#tips membeli lele#lele higienis#pasar tradisional Jawa Tengah#konsumsi ikan sehat#fakta ilmiah lele#mitos pakan kotoran lele#budidaya lele Jawa Tengah#kualitas ikan lele#lele Semarang#cara memilih lele sehat#IPB University perikanan#ikan lele higienis#pakan ikan lele

Tentang Penulis

Lilis Anggraini

Penulis

Belum ada bio untuk penulis ini.

15 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori