Semarang ( PANTURATV.ID) - Pada dini hari yang sunyi, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 11 Juli 2026, sebuah tragedi kebakaran berskala besar telah meluluhlantakkan sebuah peternakan ayam broiler. Insiden nahas ini berlokasi di kawasan Blok Mantaja, yang secara administratif berada di wilayah Desa Sangkan Mulya, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan.
Peristiwa yang terjadi di saat mayoritas warga tengah terlelap ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur bangunan kandang bertingkat dua secara total, tetapi juga mengakibatkan kematian massal pada puluhan ribu anak ayam yang tengah dipelihara di dalamnya. Secara akumulatif, total kerugian material akibat amukan si jago merah tersebut diperkirakan menembus angka yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp 479 juta.

Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan, Bapak Andri Arga Kusumah, pihak pemadam mulai menerima laporan darurat dari masyarakat pada pukul 02.05 Waktu Indonesia Barat (WIB). Menindaklanjuti laporan genting tersebut, instansinya merespons dengan sangat cepat dengan menerjunkan Regu 3. Sebanyak dua unit armada mobil pemadam kebakaran, lengkap beserta sembilan orang personel terlatih, langsung dikerahkan menuju titik lokasi kejadian untuk segera menjinakkan api.
Andri menjelaskan bahwa ketika armada tiba di lokasi hanya berselang beberapa menit pasca-laporan diterima, kondisi bangunan sudah dalam keadaan kritis. Kobaran api telah melahap dan menguasai hampir seluruh bagian dari struktur kandang dua lantai tersebut.Ditarik dari kronologi awalnya, percikan api pertama kali disadari keberadaannya pada sekitar pukul 01.00 WIB oleh dua orang pekerja peternakan yang saat itu tengah mendapatkan giliran jaga malam. Menyadari bahaya yang mengancam, kedua karyawan tersebut dengan sigap berteriak meminta pertolongan.
Bersama-sama dengan warga setempat yang terbangun karena panik, mereka sempat mencoba melakukan upaya pemadaman darurat secara swadaya. Mereka menggunakan alat dan sumber air seadanya yang tersedia di sekitar lokasi.
Sayangnya, ikhtiar tersebut tidak membuahkan hasil yang maksimal.
Angin malam yang berembus dengan intensitas cukup kencang bertindak sebagai katalisator, membuat nyala api semakin beringas dan merambat dengan sangat cepat ke berbagai sudut bangunan. Menyadari situasi yang semakin tidak terkendali dan adanya kekhawatiran api akan menjalar ke kandang-kandang peternakan lain di sekitarnya, perangkat desa setempat segera mengambil inisiatif krusial untuk mengontak pihak UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan.
Sang pemilik peternakan yang kini harus menelan pil pahit. Usman mengungkapkan kesedihan mendalamnya karena kandang ayam dua lantai dengan dimensi bangunan berukuran 50 meter x 8 meter tersebut baru saja diisi dengan bibit-bibit anak ayam sekitar dua hari sebelum bencana alam ini terjadi. Dari total populasi awal sebanyak 10.700 ekor anak ayam broiler yang ada di dalam kandang, nasib tragis menimpa mayoritas dari mereka.
Di tengah kepanikan, petugas dan warga hanya mampu menyelamatkan nyawa segelintir ayam, yakni berkisar 300 ekor saja. Puluhan ribu sisanya hangus tak terselamatkan di dalam bangunan. Tidak berhenti sampai di situ, amukan api juga melenyapkan stok pakan ayam yang jumlahnya mencapai satu ton, serta melelehkan ratusan perangkat vital kelengkapan peternakan seperti wadah tempat pakan dan sistem saluran air (nipple).

Menelaah lebih jauh mengenai penyebab pasti kebakaran ini, tim penyelidik dari pemadam kebakaran telah mengumpulkan berbagai keterangan dari para saksi mata di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Menurut analisis awal Andri, dugaan sementara yang paling kuat mengarah pada adanya gangguan atau malafungsi pada mesin pemanas ruangan kandang.
Mesin penghangat yang berfungsi menjaga suhu bagi anak ayam tersebut diduga kuat mengalami korsleting arus listrik yang kemudian memicu panas berlebih (overheating), hingga pada akhirnya mengeluarkan percikan api yang menyambar material mudah terbakar di sekitarnya. Meskipun demikian, pihak berwenang menegaskan bahwa mereka masih terus melakukan proses pendalaman investigasi untuk memastikan akar penyebab kebakaran secara definitif.
Dalam proses penaklukan api sendiri, petugas pemadam menghadapi sejumlah kendala yang cukup menyulitkan di lapangan. Jarak sumber air yang terlampau jauh dari titik api memaksa para personel untuk mengatur strategi pasokan suplai air secara cermat. Ditambah lagi dengan faktor angin kencang yang membuat arah dan besaran kobaran api menjadi tidak stabil, mengharuskan tim pemadam untuk bekerja ekstra keras dan waspada guna mencegah terjadinya perambatan ke area bangunan lain yang belum tersentuh.
Setelah perjuangan panjang yang melelahkan, api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya. Berdasarkan hasil perhitungan dan inventarisasi pasca-bencana yang dilakukan secara kolektif oleh pihak UPT Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan dan pihak korban, ditetapkan bahwa taksiran kerugian finansial akibat kejadian ini menyentuh nominal sekitar Rp 479 juta.
Menilik pada sisi keselamatan manusia, kejadian ini masih patut disyukuri karena dipastikan tidak memakan satu pun korban jiwa maupun luka-luka. Kendati demikian, trauma psikologis yang mendalam akibat besarnya kobaran api dan kepanikan di tengah malam tersebut pastinya masih membekas kuat, baik di benak sang pemilik peternakan maupun bagi para warga yang bermukim di sekitar lokasi kejadian.













