LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Mengatasi Gangguan Tidur Tengah Malam, Kaitan Antara Gula Darah, Kortisol, dan Pola Makan

Oleh Lilis Anggraini
11 Juli 2026
3 menit baca

Terbangun di jam 2-5 pagi bukan hanya soal stres. Menurut chiropractor Kelsey Jordan, ketidakstabilan gula darah adalah penyebab utama. Tubuh melepas kortisol saat gula darah anjlok, memicu kebangunan.

Mengatasi Gangguan Tidur Tengah Malam, Kaitan Antara Gula Darah, Kortisol, dan Pola Makan

Semarang (PANTURATV.ID) - Banyak orang kerap mengeluhkan kebiasaan terbangun di sepertiga malam, tepatnya pada rentang waktu antara pukul 02.00 hingga 05.00 pagi. Mayoritas dari kita mungkin akan langsung menyalahkan tingkat stres yang tinggi, kecemasan, atau kebiasaan buruk menatap layar gawai sesaat sebelum memejamkan mata. Namun, tahukah Anda bahwa kualitas tidur kita sangat erat kaitannya dengan asupan gizi serta rutinitas makan kita sepanjang hari?

Kelsey Jordan, DC, seorang chiropractor sekaligus Health Restoration Practitioner, mengungkapkan sebuah fakta medis yang menarik. Menurutnya, salah satu dalang utama yang paling sering membuat seseorang mendadak terjaga di malam hari adalah ketidakstabilan kadar gula darah. Secara fisiologis, apabila kadar gula darah kita anjlok hingga titik yang terlalu rendah saat kita sedang terlelap, tubuh akan meresponsnya sebagai sebuah kondisi darurat. Sebagai bentuk pertahanan diri, tubuh secara otomatis akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah besar untuk mendongkrak kembali gula darah ke ambang batas normal.

Jordan memaparkan lebih lanjut bahwa pola makan yang tidak teratur—yang menyebabkan fluktuasi gula darah layaknya rollercoaster dari pagi hingga malam—akan memberikan dampak buruk saat waktu istirahat tiba. Penurunan tajam gula darah di malam hari inilah yang memaksa keluarnya hormon kortisol. Kortisol sejatinya dikenal sebagai hormon stres yang secara alami dirancang untuk meningkat perlahan menjelang pagi hari guna mempersiapkan tubuh kita bangun dan beraktivitas.

Akan tetapi, jika hormon ini dipaksa keluar lebih awal di tengah malam demi menyelamatkan kadar gula darah, efek stimulasinya yang kuat akan membuat otak dan tubuh kita kembali waspada, sehingga tidur malam pun menjadi berantakan. Oleh sebab itu, Jordan menyarankan agar mereka yang memiliki "jadwal rutin" terbangun di jam yang sama setiap malam untuk mulai mengevaluasi kembali apa dan kapan mereka makan.

Sebagai langkah praktis untuk menjaga stabilitas gula darah semalaman, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung lemak sehat (lemak tak jenuh) dalam takaran yang wajar sebelum tidur. Karakteristik lemak sehat yang dicerna dan melepaskan energi secara lambat sangat ideal untuk menahan agar gula darah tidak merosot tajam. Beberapa rekomendasi sumber lemak sehat yang baik dikonsumsi yaitu setengah potong buah alpukat, satu sendok makan minyak zaitun murni (olive oil),minyak kelapa, dan aneka kacang-kacangan dan biji-bijian (seperti anjuran American Heart Association).

deretan-makanan-berlemak-tinggi-yang-baik-untuk-kesehatan.jpg

Selain memperhatikan jenis makanannya, manajemen waktu makan juga tidak boleh disepelekan. Organisasi Sleep Foundation menganjurkan agar kita memberi jeda minimal dua jam antara waktu makan terakhir dengan waktu tidur. Jeda waktu ini sangat krusial untuk memberikan kesempatan bagi organ pencernaan bekerja secara optimal, sekaligus memastikan kadar gula darah sudah dalam posisi stabil sebelum kita benar-benar tertidur.

Di sisi lain, Anda sangat disarankan untuk membatasi asupan makanan yang sarat akan lemak jenuh. Berdasarkan keterangan dari Michigan State University, makanan dengan lemak jenuh tinggi justru dapat menghambat kelancaran sistem pencernaan dan menurunkan efektivitas kerja hormon insulin. Apabila kebiasaan ini diteruskan dalam jangka panjang, risikonya tidak hanya berdampak pada buruknya kualitas tidur, tetapi juga pada peningkatan ancaman penyakit diabetes melitus tipe 2.

Pada akhirnya, menciptakan kualitas tidur yang paripurna membutuhkan pendekatan gaya hidup yang menyeluruh. Menata ulang pola makan untuk menstabilkan gula darah memang sangat penting, namun hal tersebut tetap harus diimbangi dengan rutinitas aktivitas fisik yang memadai, konsistensi jadwal tidur setiap harinya, serta manajemen stres yang baik. Kombinasi dari seluruh faktor inilah yang menjadi kunci utama agar tubuh bisa benar-benar melakukan regenerasi dan mendapatkan istirahat yang maksimal setiap malam.

Tags

#gangguan tidur tengah malam#gula darah#kortisol#pola makan#kesehatan tidur#Semarang#hormon stres#stabilitas gula darah#kesehatan#wellness#tips tidur nyenyak#nutrisi#gula darah dan tidur#kadar kortisol#pola makan sehat#kesehatan Semarang#Jawa Tengah#lemak sehat#kesehatan masyarakat

Tentang Penulis

Lilis Anggraini

Penulis

Belum ada bio untuk penulis ini.

14 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori