Semarang (PANTURATV.ID) - Warganet belakangan ini ramai membicarakan tren lari santai melalui berbagai platform media sosial. Fenomena menarik ini seakan memberikan warna baru bagi para penggemar dunia olahraga lari. Anda bisa mengeksplorasi manfaat slow jogging dengan mempraktikkan kecepatan lari yang sangat santai. Bahkan, pelari hanya perlu mengatur kecepatan sekitar tiga hingga lima kilometer per jam. Meskipun tampak sangat ringan, banyak orang mengklaim aktivitas ini membakar kalori secara maksimal. Selain itu, mereka menilai semua kalangan masyarakat bisa melakukan rutinitas ini secara mudah. Namun, apakah klaim pembakaran kalori yang fantastis tersebut memiliki bukti ilmiah yang kuat?
Dokter spesialis kedokteran olahraga RSUI, Dr Listya Tresnanti Mirtha, memberikan penjelasan medis rinci. Dokter yang akrab menyapa pasien dengan nama dr Tata ini menyampaikan sebuah fakta. Beliau menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah mengenai pembakaran kalori yang lebih tinggi. Padahal, banyak faktor penting memengaruhi proses pembakaran kalori saat kita sedang berolahraga rutin. Beberapa faktor tersebut meliputi berat badan, durasi latihan, intensitas, serta efisiensi gerakan pelari. Selanjutnya, otot paha, bokong, dan betis memang bekerja secara berulang selama pelari berlatih. Akan tetapi, lari santai tidak membakar kalori lebih banyak daripada lari intensitas sedang.
Oleh karena itu, kita harus memahami nilai utama dari aktivitas fisik yang populer ini. Dokter Tata menambahkan penjelasan mengenai manfaat slow jogging yang sesungguhnya bagi tubuh kita. Nilai plusnya tidak sekadar berfokus pada jumlah kalori saat tubuh kita mengeluarkan keringat. Sebaliknya, para pemula jauh lebih mudah mempertahankan durasi latihan fisik ini secara rutin. Akibatnya, pelari pemula merasa sangat nyaman saat merutinkan aktivitas lari santai setiap harinya. Sebagai hasilnya, banyak orang akhirnya mampu berolahraga lebih lama demi menjaga kebugaran tubuh.

Dalam jangka panjang, kebiasaan baik ini pasti memberikan efek positif bagi kesehatan pelari. Kesimpulannya, olahraga terbaik tentu bukan jenis latihan yang paling membebani fisik para pelakunya. Melainkan, olahraga terbaik mengarah pada aktivitas yang mampu kita lakukan secara sangat konsisten. Karena itu, mulailah memetik manfaat slow jogging dengan berlari santai keliling lingkungan rumah. Pastikan Anda menjaga rutinitas harian ini agar tubuh selalu bugar sepanjang usia senja.
Di samping itu, lari santai juga mengurangi risiko cedera sendi bagi para lansia. Hal ini berlangsung karena tekanan telapak kaki pada aspal tidak begitu membebani tulang. Dengan demikian, sendi lutut dan pergelangan kaki menerima beban kejut yang sangat minim. Tambahan pula, Anda bisa mengajak teman atau anggota keluarga ikut berlari santai bersama. Kebersamaan ini tentu meningkatkan semangat berolahraga sambil menikmati udara pagi yang sangat segar.














