Semarang ( PANTURATV.ID ) - Telur senantiasa menjadi primadona di dapur masyarakat luas. Tidak hanya karena harganya yang sangat ramah di kantong, bahan pangan yang satu ini juga dikenal sebagai gudangnya nutrisi. Di dalam sebutir telur, terkandung protein berkualitas tinggi, ragam vitamin, mineral, serta zat-zat esensial lain yang sangat krusial bagi kebugaran jasmani kita. Sayangnya, kepopuleran telur sering kali diiringi dengan kebiasaan konsumsi yang keliru.
Menurut pemaparan dr. Chiu Cheng-hung, seorang dokter spesialis penurunan berat badan sekaligus Direktur di Jing Sheng Clinic, Taiwan, kesalahan dalam penentuan porsi harian maupun metode pengolahan telur justru bisa menjadi bumerang. Alih-alih mendapatkan khasiat sehatnya, kebiasaan yang salah kaprah ini malah berisiko memicu gangguan kesehatan di kemudian hari.
Berikut adalah lima kesalahan utama dalam mengonsumsi telur yang patut Anda hindari:

- Mengonsumsi dalam Jumlah yang Terlalu Banyak
Kendati demikian, toleransi tubuh setiap individu terhadap kolesterol amatlah bervariasi. Oleh sebab itu, dr. Chiu sangat menyarankan agar kita rutin memeriksakan profil kolesterol darah. Apabila Anda adalah orang dewasa sehat dan memiliki kadar LDL di bawah 130 mg/dL, maka menyantap tiga hingga empat butir telur dalam sehari umumnya masih dapat ditoleransi dengan aman. Namun sebaliknya, apabila angka LDL Anda sudah mendekati ambang batas atas kewajaran, sangat disarankan untuk membatasi asupan maksimal hanya dua butir saja dalam sehari.
- Melupakan "Telur Tersembunyi" pada Makanan Lain
Tanpa disadari, Anda mungkin telah memasukkan asupan telur tambahan saat menikmati sepotong kue, puding, egg roll, atau hidangan lauk-pauk berbahan campuran telur seperti orak-arik tomat. Jika keseluruhan asupan dari "telur tersembunyi" ini diakumulasikan secara rinci, total konsumsi telur harian Anda bisa melambung jauh melebihi batas yang direkomendasikan.

- Terkecoh Mitos Telur Bercangkang Cokelat Lebih Bergiz
Faktanya, dr. Chiu menegaskan bahwa perbedaan warna cangkang murni dipengaruhi oleh faktor genetika (jenis ras ayam petelurnya) serta formulasi pakan yang diberikan peternak. Memang benar ada jenis pakan tertentu yang mengandung beta-karoten tinggi sehingga membuat warna cangkang menjadi lebih gelap, namun hal tersebut sama sekali tidak mengubah atau mendongkrak komposisi gizi inti di dalam telurnya. Kesimpulannya, warna kulit luar bukanlah indikator pengukur kualitas nutrisi sebutir telur.
- Memprioritaskan Telur Mentah atau Setengah Matang
Sistem pencernaan manusia nyatanya mampu menyerap dan memproses lebih dari 90 persen protein yang ada pada telur matang sempurna. Berbanding terbalik dengan telur mentah, di mana tubuh kita hanya sanggup menyerap sekitar 50 persen proteinnya saja, sehingga ada banyak sekali zat gizi berharga yang terbuang sia-sia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, telur yang tidak dimasak hingga benar-benar matang membawa risiko tinggi terpapar kontaminasi bakteri Salmonella, yang merupakan penyebab utama keracunan makanan. Ancaman ini bisa sangat fatal jika menimpa kelompok dengan imunitas rentan, seperti ibu yang sedang mengandung, anak-anak balita, orang lanjut usia, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

- Mengabaikan Metode Memasak yang Sehat
Sebagai solusi sehat yang paling paripurna, dr. Chiu merekomendasikan telur rebus matang utuh. Melalui metode ini, struktur protein telur akan terselamatkan secara optimal sekaligus meniadakan risiko bakteri tanpa perlu melibatkan lemak ekstra. Jika Anda merasa rasanya terlalu hambar di lidah, cukup siasati dengan menambahkan sedikit kecap asin atau taburan rempah-rempah alami secukupnya agar rasanya tetap nikmat tanpa harus merusak nilai gizinya.















