LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Sinyal Bahaya Tubuh Akibat Tingginya Kadar Gula Darah dan Risiko Komplikasinya

Oleh Cinta Isabell
18 September 2026
5 menit baca

Penyakit diabetes dapat menjadi gerbang utama berbagai komplikasi mematian yang merusak organ vital.

Sinyal Bahaya Tubuh Akibat Tingginya Kadar Gula Darah dan Risiko Komplikasinya

Semarang (PANTURATV.ID) - Penyakit diabetes yang dipicu oleh ketidakmampuan tubuh dalam mengontrol kadar gula darah dapat menjadi gerbang utama bagi bermacam-macam komplikasi mematikan yang merusak organ-organ vital. Ancaman dari penyakit lanjutan ini sangatlah nyata dan beragam, mencakup kerusakan pada sistem saraf secara perlahan, serangan stroke, penyakit jantung koroner, hingga ancaman gangguan penglihatan yang berujung pada kebutaan permanen. Mengingat bahaya besar yang senantiasa mengintai, kita dituntut untuk lebih peka dan waspada dalam mengenali alarm peringatan dini yang dikirimkan oleh tubuh saat kadar glukosa melonjak melampaui batas normal.

Berikut ini adalah berbagai tanda peringatan dari tubuh yang wajib Anda waspadai beserta penjelasannya:

  1. Intensitas buang air kecil meningkat tajam dan selalu merasa kehausan. Berdasarkan informasi medis dari Everyday Health, ketika kadar gula di dalam darah melambung, organ ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring sekaligus membuang kelebihan glukosa tersebut. Proses pembuangan ini menarik banyak cairan dari dalam jaringan tubuh menjadi urine, yang pada akhirnya membuat penderita sangat sering bolak-balik ke toilet dan terus-menerus diserang rasa haus yang sulit dituntaskan.
OIP (23).jpg
  1. Rasa lapar yang tidak berkesudahan diiringi dengan penurunan berat badan yang drastis. Kondisi mudah lapar ini secara medis dikenal dengan istilah polifagia. Menurut temuan dari Cleveland Clinic, penderita dengan gula darah yang tak terkontrol sering kali mendapati berat badan mereka merosot drastis meskipun porsi makan mereka sangat banyak. Ahli diet Lori Zanini memaparkan bahwa fenomena ini terjadi karena sel-sel tubuh gagal menyerap glukosa sebagai bahan bakar energi. Sebagai kompensasinya, tubuh yang kelaparan akan mulai memecah cadangan lemak dan massa otot untuk bertahan hidup. Proses pemecahan inilah yang memicu penurunan berat badan secara tidak sehat, serta membuat penderita sering mengalami kelemahan otot hingga mudah terjatuh.
  1. Mengalami rasa lelah yang ekstrem dan terjadi secara terus-menerus. Kelelahan kronis merupakan indikator kuat bahwa kadar gula dalam tubuh sedang kacau. Zanini menjelaskan secara sederhana bahwa apabila tubuh mengalami kekurangan produksi insulin atau gagal merespons insulin dengan benar, maka glukosa hanya akan menumpuk dan beredar bebas di dalam pembuluh darah. Glukosa tersebut gagal menembus masuk ke dalam sel-sel tubuh, sehingga tubuh kehilangan sumber energi utamanya dan membuat penderitanya merasa sangat kelelahan sepanjang waktu.
  1. Kualitas penglihatan menurun menjadi buram yang sering kali disertai sakit kepala. Merujuk pada penjelasan dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases atau NIDDK, tingginya tumpukan gula di dalam darah dapat memicu kebocoran cairan yang berimbas pada pembengkakan lensa mata. Perubahan volume cairan ini secara langsung mengubah bentuk asli dari lensa mata itu sendiri, sehingga penderita akan kesulitan memfokuskan pandangan dan melihat objek menjadi kabur. Tidak hanya itu, ketidakstabilan ini juga sering memicu kemunculan sakit kepala yang cukup mengganggu rutinitas.
  1. Luka pada permukaan kulit membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sembuh. Masih menurut NIDDK, segala bentuk luka, mulai dari goresan kecil hingga memar akibat benturan, akan sangat sulit untuk pulih jika penderitanya memiliki riwayat gula darah tinggi. Hal ini disebabkan oleh komplikasi diabetes yang secara perlahan merusak jaringan saraf dan menyumbat sirkulasi aliran darah. Akibatnya, area yang terluka tidak mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup untuk proses regenerasi sel. Kondisi ini membuat luka ringan menjadi sangat rentan terpapar infeksi yang parah, yang mana dalam skenario terburuk dapat berujung pada keharusan untuk mengamputasi anggota tubuh.
OIP (24).jpg
  1. Sering merasakan sensasi kesemutan yang menjalar pada area tangan dan kaki. Kadar gula darah yang dibiarkan melonjak tanpa kendali dalam jangka waktu lama akan merusak serat-serat saraf perifer, sebuah kondisi yang dikenal sebagai neuropati diabetik. Everyday Health mencatat bahwa kerusakan saraf ini umumnya memicu gejala awal berupa rasa kesemutan layaknya tertusuk jarum, hingga sensasi kebas atau mati rasa pada ujung-ujung jari tangan dan kaki. Pada beberapa individu, neuropati ini berkembang menjadi rasa nyeri yang sangat menyiksa, terutama ketika malam hari menjelang waktu tidur.
  1. Terdapat perubahan warna dan tekstur yang tidak wajar pada area kulit tertentu. American Diabetes Association atau ADA menyatakan bahwa penderita diabetes sering kali mendapati kemunculan kutil pada permukaan kulit mereka. Di samping itu, beberapa area lipatan kulit seperti bagian belakang leher, ketiak, area wajah, dan tangan akan mengalami penebalan yang signifikan dan berubah warna menjadi lebih gelap dari biasanya. Menurut pandangan Zanini, perubahan wujud kulit semacam ini merupakan salah satu tanda bahaya yang mengindikasikan bahwa tubuh sedang mengalami resistensi insulin dan memperingatkan bahwa kadar gula darah sedang melambung tinggi.
  1. Sangat rentan dan sering terserang infeksi jamur. Kondisi hiperglikemia, menurut ADA, menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi jamur seperti candida albicans untuk berkembang biak, terutama di area genital. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC menyebutkan bahwa wanita yang terinfeksi umumnya akan mengeluhkan rasa gatal yang hebat pada vagina, kemerahan, sensasi nyeri saat buang air kecil maupun saat berhubungan intim, serta keluarnya keputihan dengan tekstur kental yang tidak wajar. Seorang Ahli Endokrinologi, Rail Bandukwala, menjelaskan bahwa jamur menjadikan glukosa sebagai sumber makanan utama mereka. Oleh sebab itu, semakin tinggi kadar gula dalam darah, maka semakin banyak pula glukosa yang terbuang melalui saluran kemih, yang pada akhirnya menyuburkan pertumbuhan jamur tersebut.
OIP (25).jpg
  1. Masalah pada kebersihan mulut yang ditandai dengan gusi yang sering berdarah. NIDDK memperingatkan bahwa masalah penyakit gusi bukan sekadar keluhan mulut biasa, melainkan bagian dari komplikasi diabetes yang justru membuat penyakit tersebut semakin sulit untuk dikendalikan. Ketika terjadi infeksi pada gusi, tubuh akan merespons dengan melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam sirkulasi darah. Di saat yang sama, kadar gula yang tinggi juga meningkatkan konsentrasi glukosa di dalam air liur. Glukosa yang melimpah ini akan bereaksi dengan sisa-sisa makanan dan bakteri di dalam mulut untuk membentuk plak tebal yang merusak gusi. Mayo Clinic menambahkan bahwa apabila peradangan ini diabaikan, ia akan berkembang menjadi periodontitis parah yang bisa memicu keluarnya nanah, gusi yang menyusut, hingga mengakibatkan gigi tanggal dengan sendirinya.

Tags

#gula darah tinggi#diabetes Jawa Tengah#komplikasi diabetes#kesehatan Semarang#tanda-tanda diabetes#stroke dan jantung#kadar glukosa#penyakit metabolik#pencegahan diabetes#kesehatan regional Pantura#kadar gula darah tinggi#tanda diabetes#gejala gula darah#kesehatan regional#artikel kesehatan

Tentang Penulis

Cinta Isabell

Penulis

Cinta adalah jurnalis di PanturaTV yang menulis seputar olahraga/gaya hidup/berita nasional. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat dan mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan.

210 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori