LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Sembilan Tanda Terselubung Depresi yang Sering Tidak Disadari

Oleh Cinta Isabell
28 Juli 2026
6 menit baca

Depresi tidak selalu tampak sebagai kesedihan ekstrem. Mengungkap 9 tanda tersembunyi depresi yang sering diabaikan masyarakat, termasuk nyeri kronis dan perubahan perilaku.

Sembilan Tanda Terselubung Depresi yang Sering Tidak Disadari

Semarang (PANTURATV.ID) - Selama ini, masyarakat umum sering kali mengaitkan masalah depresi semata-mata dengan perasaan sedih yang teramat sangat, intensitas menangis yang tidak terkendali, atau kondisi di mana seseorang sama sekali kehilangan energi hingga tidak mampu beranjak dari tempat tidurnya. Padahal, pandangan dan stereotip semacam ini tidak sepenuhnya akurat dalam menggambarkan realitas medis.

Kenyataannya, masalah kesehatan mental yang satu ini kerap kali bermanifestasi dalam wujud keluhan fisik maupun perubahan tingkah laku yang sama sekali tidak disangka-sangka. Kondisi terselubung inilah yang pada akhirnya membuat banyak penderita tidak menyadari bahwa diri mereka sebenarnya sedang bergulat dengan depresi yang butuh penanganan.

Terkait hal ini, seorang pakar dalam bidang identifikasi depresi sekaligus profesor penyakit dalam di Universitas California Davis, yakni Richard Kravitz, memberikan penjelasannya secara mendalam. Ia menegaskan bahwa depresi tidak melulu ditunjukkan melalui penderitaan emosional atau kesedihan yang membuat seseorang tampak lemah tak berdaya.

Menurut pengamatannya selama ini, banyak individu yang merasa enggan atau secara tidak sadar menolak untuk menghubungkan berbagai keluhan fisik yang mereka rasakan dengan kondisi psikologis. Hal ini biasanya dilatarbelakangi oleh rasa takut akan stigma kelemahan mental di mata masyarakat, atau sekadar ketidaktahuan mereka bahwa kondisi fisik dan mental tersebut memiliki benang merah yang saling berkaitan erat.

Merujuk pada informasi dan data yang dipublikasikan oleh Prevention pada akhir Juli tahun dua ribu dua puluh enam, terdapat setidaknya sembilan indikasi terselubung dari depresi yang patut mendapatkan perhatian ekstra dari kita semua, yaitu:

images (30).jpeg
  1. Nyeri Kronis yang Tidak Kunjung Mereda

Indikasi pertama sangat erat kaitannya dengan keluhan fisik, khususnya nyeri kronis yang tidak kunjung mereda meski telah diobati. Secara medis, kondisi depresi dan rasa nyeri di tubuh rupanya mengalir pada jalur biologis yang sama serta melibatkan zat kimia otak atau neurotransmiter yang serupa.

Sebuah literatur kesehatan dalam jurnal Pain bahkan secara mengejutkan menyebutkan bahwa lebih dari separuh, tepatnya lima puluh enam persen, individu yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan juga menderita rasa sakit kronis secara fisik. Kravitz menambahkan bahwa saat pikiran seseorang dipenuhi oleh energi dan pandangan negatif, sensitivitas tubuh mereka terhadap rasa ketidaknyamanan seperti pusing kepala atau kram perut akan meningkat tajam dibandingkan orang pada umumnya.

  1. Fluktuasi dan Kenaikan Berat Badan yang Drastis

Selain masalah nyeri yang tak kunjung hilang, perubahan drastis pada ukuran tubuh dan jarum timbangan juga menjadi sinyal krusial yang perlu diwaspadai. Relasi antara depresi dan fluktuasi berat badan sejatinya bekerja dari dua arah yang saling berlawanan, bergantung pada respons tubuh masing-masing individu. Pada satu sisi, tekanan mental dan stres dapat mendorong seseorang untuk melampiaskannya lewat makan berlebih hingga memicu kenaikan berat badan yang berujung pada obesitas.

Namun di sisi lain, catatan dari lembaga pemerhati kesehatan mental Anxiety and Depression Association of America menunjukkan fenomena sebaliknya. Sebagian penderita justru melaporkan kehilangan selera makan secara total, makanan terasa hambar, yang pada akhirnya berakibat pada merosotnya berat badan mereka secara drastis dalam waktu singkat.

images (31).jpeg
  1. Kemarahan dan Emosi yang Mudah Meluap

Lebih lanjut, gejolak emosi yang meledak-ledak tanpa alasan yang proporsional juga bisa menjadi pertanda kuat. Apabila seseorang tiba-tiba menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung, dan tersulut amarahnya hanya karena persoalan sepele yang biasanya tidak mengganggu, hal ini patut dicurigai sebagai gejala depresi.

Simon Rego, seorang profesor psikiatri klinis terkemuka dari Albert Einstein College of Medicine, memaparkan secara psikologis bahwa ketika seseorang terjebak dalam pusaran mental yang kelam, gerbang menuju emosi negatif lainnya akan terbuka lebar. Hal ini membuat penderita jauh lebih mudah memunculkan rasa frustrasi, sifat mudah tersinggung, dan kemarahan yang meluap-luap.

  1. Perasaan Hampa dan Mati Rasa Emosional

Manifestasi selanjutnya adalah munculnya perasaan hampa yang luar biasa hebat, yang membuat seseorang bersikap pasif layaknya zombi berjalan. Individu yang berada di fase ini benar-benar kehilangan dorongan motivasi serta mengalami kebas atau mati rasa secara emosional.

Akibatnya, hal-hal di sekelilingnya yang dulu bisa memancing tawa riang gembira atau tangis haru kini tidak lagi memberikan efek stimulasi apa pun pada perasaannya.Sikap dingin, datar, dan tidak acuh ini pada akhirnya sering kali menciptakan jurang pemisah dan menjauhkan penderita dari orang-orang terdekat, padahal keluarga dan sahabat tersebut sebenarnya berniat memberikan pertolongan dan dukungan moral.

images (1) (14).jpeg
  1. Menjadikan Alkohol Sebagai Bentuk Pelarian

Sebagai bentuk pelarian dari rasa sakit dan kehampaan emosional tersebut, tidak jarang penderita depresi terjerumus pada pelukan minuman beralkohol. Mereka sering kali menggunakan pendekatan keliru dengan menganggap alkohol sebagai sarana pengobatan mandiri untuk meredakan beban pikiran dan ketegangan urat saraf. Sayangnya, meminum alkohol secara berlebihan justru akan menjadi bumerang yang memperparah kondisi psikologis mereka.

Alkohol diyakini kuat dapat memicu dan memperkuat timbulnya rasa cemas yang berlebihan serta sifat agresif yang sulit dikontrol. Sebagai standar keselamatan, otoritas kesehatan seperti Centers for Disease Control and Prevention telah menetapkan batas aman konsumsi alkohol, yakni maksimal dibatasi hanya satu gelas per hari untuk kalangan perempuan dan dua gelas untuk laki-laki.

images (1) (13).jpeg
  1. Kecanduan Dunia Maya dan Berbelanja Daring

Bentuk pelarian lainnya yang sangat relevan dan kerap ditemui di era digital modern ini adalah kecanduan parah pada layar gawai. Kegiatan ini bisa berupa kebiasaan berselancar di media sosial tanpa henti, bermain permainan video hingga melupakan waktu, maupun berbelanja daring secara impulsif. Sebuah kajian akademis yang dimuat dalam Psychiatry Research menemukan adanya kaitan dan tumpang tindih yang sangat besar antara penderita gangguan kecemasan serta depresi dengan kecanduan pada dunia maya.

Rentetan aktivitas digital ini dijadikan sebagai tameng atau mekanisme pertahanan diri sementara untuk meraih kesenangan instan yang bersifat fana, sekaligus menjadi cara terburuk untuk menghindari pikiran-pikiran kelam yang terus menghantui otak mereka.

  1. Kesulitan dan Kelumpuhan dalam Mengambil Keputusan

Tanda tersembunyi berikutnya adalah menurunnya fungsi dan kemampuan otak dalam memproses informasi, yang berujung pada lumpuhnya kemampuan mengambil keputusan. Ketika episode depresi mengambil alih kendali kesadaran, proses kognitif manusia akan mengalami gangguan yang cukup signifikan.

Keputusan-keputusan berskala kecil yang di hari-hari biasa dapat diputuskan secara otomatis dan tanpa membebani pikiran, seperti sekadar menentukan menu sarapan pagi atau memilih padu padan baju yang akan dikenakan ke kantor, tiba-tiba berubah menjadi tugas berat. Hal ini terasa sangat menguras tenaga dan meletihkan batin penderitanya.

images (1) (15).jpeg
  1. Mengabaikan Kebersihan dan Perawatan Diri

Kondisi yang memburuk ini kemudian perlahan merambat pada hilangnya kemauan dan energi untuk merawat kebersihan serta kerapian diri. Berdasarkan temuan dari sebuah observasi ilmiah di Australia, sekadar menjaga rutinitas kebersihan pribadi seperti mandi, menyikat gigi, atau merapikan rambut terasa bagaikan mendaki gunung bagi mereka yang sedang tersiksa oleh depresi. Penurunan kualitas perawatan diri yang terjadi secara drastis ini akan bertransformasi menjadi alarm tanda bahaya ketika dampaknya sudah mulai merusak fungsi kehidupan sosial seseorang sehari-hari.

Profesor Rego kembali menekankan poin penting bahwa mengabaikan kesejahteraan fisik semacam ini merupakan sebuah spektrum. Perilaku tersebut baru berevolusi menjadi masalah yang menuntut intervensi serius ketika ia sudah melewati batas kewajaran hingga memicu disfungsi kehidupan bermasyarakat.

  1. Gangguan Siklus Tidur yang Sangat Ekstrem

Terakhir, pola istirahat yang hancur berantakan menjadi indikator dan keluhan yang paling sering disuarakan. Depresi memiliki kemampuan merusak sistem jam biologis manusia yang kemudian muncul dalam dua bentuk yang saling bertolak belakang. Banyak sekali penderita yang dipaksa berjuang melawan insomnia berkepanjangan setiap malam karena otak mereka tidak mau berhenti berpikir. Di sudut yang lain, tidak sedikit pula penderita yang justru terus-menerus merasa kehabisan energi dan tidur berlebihan sepanjang malam menyambung hingga siang hari.

Fenomena medis ini turut dipastikan kebenarannya oleh penelitian terpercaya dalam Journal of Affective Disorders, yang mengambil kesimpulan akhir bahwa durasi tidur yang tidak wajar, baik itu terlalu singkat maupun terlalu panjang, sama-sama memiliki korelasi yang sangat kuat dengan keberadaan penyakit depresi.

Tags

#depresi terselubung#kesehatan mental#nyeri kronis#gejala depresi#Semarang#Jawa Tengah#Richard Kravitz#kesehatan mental Indonesia#gangguan psikologis#identifikasi depresi#PanturaTV#depresi tersembunyi#kesehatan mental Semarang#nyeri kronis depresi#gangguan kecemasan#depresi tidak disadari#panduan kesehatan#pencegahan depresi#edukasi mental health#PANTURATV

Tentang Penulis

Cinta Isabell

Penulis

Cinta adalah jurnalis di PanturaTV yang menulis seputar olahraga/gaya hidup/berita nasional. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat dan mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan.

68 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori