Yogyakarta (PANTURATV.ID) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul melaporkan kondisi cuaca ekstrem saat ini. Mereka mencatat potensi jumlah warga terdampak kekeringan mencapai ratusan ribu jiwa. Fenomena alam ini sangat mengancam ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat luas setempat. Oleh karena itu, pemerintah daerah segera menyiagakan berbagai langkah mitigasi bencana secara cepat.
Mereka terus memantau ketersediaan air pada berbagai wilayah rentan bencana tersebut. Selanjutnya, petugas mendata kebutuhan dasar masyarakat agar distribusi bantuan bisa tepat sasaran. Kondisi kemarau panjang ini memang selalu menghantui warga masyarakat Gunungkidul setiap tahunnya. Pemerintah pun berusaha merumuskan solusi jangka panjang demi kesejahteraan masyarakat daerah.
Kepala Bidang BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, secara langsung merinci jumlah populasi yang rentan. Ia menyebut jumlah warga terdampak kekeringan saat ini mencapai angka 114.528 jiwa. Masyarakat rentan tersebut tersebar luas pada 60 Kalurahan di sekitar 16 Kapanewon. Namun demikian, wilayah Kapanewon Playen dan Wonosari sejauh ini berpotensi aman dari ancaman. Sementara itu, sebagian kelompok masyarakat desa sudah mulai meminta bantuan pasokan air bersih.

"Untuk yang mengajukan droping diperkirakan 29.928 jiwa," kata Nanang Irawanto kepada awak media. Oleh sebab itu, tim BPBD akan memprioritaskan pengiriman air bersih menuju lokasi tersebut. Mereka juga mengerahkan armada tangki air guna mendistribusikan bantuan secara merata.
Di sisi lain, pihak PDAM Tirta Handayani turut melakukan berbagai langkah nyata antisipasi. Direktur PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Aribowo, berusaha memastikan suplai air bersih tetap aman. Pihaknya saat ini sedang bekerja keras meningkatkan debit air melalui pemanfaatan sumur Paliyan. Selama ini, perusahaan daerah tersebut selalu mengandalkan pasokan dari sumber Ngobaran dan Baron.
"Paliyan sudah lancar, karena sumbernya dekat dengan warga," ungkap Sulistyo dengan penuh optimisme. Selain itu, mereka juga memaksimalkan kapasitas sumber Seropan untuk melayani kawasan wilayah timur. Langkah strategis ini sangat krusial demi menjaga keberlangsungan hidup masyarakat desa sehari-hari. Ketersediaan air bersih sangat menunjang aktivitas perekonomian serta menjaga kebersihan lingkungan warga.
Lebih lanjut, Sulistyo menjelaskan perkembangan positif dari uji coba pasokan air di Seropan. Wilayah Hargosari kini sudah bisa menikmati aliran air bersih penuh selama 24 jam. Meskipun demikian, tim teknis PDAM masih menghadapi kendala geografis yang cukup berat. Kawasan Purwosari dan Panggang hingga saat ini tidak memiliki sumber air secara mandiri. Akibatnya, masyarakat setempat tetap bergantung penuh pada suplai harian dari Ngobaran dan Baron.

Perusahaan sebenarnya sempat merencanakan pembangunan sumber air alternatif di kawasan pesisir Pantai Bekah. "Sebenarnya sudah sempat disiapkan di wilayah Pantai Bekah, namun airnya payau sehingga tidak bisa digunakan," kata dia. Pada akhirnya, perusahaan terus mencari serta mengupayakan penemuan sumber air terdekat dari pemukiman. Mereka berharap solusi ini mampu mengatasi penderitaan warga akibat krisis air menahun.












