Semarang (PANTURATV.ID) Orang tua memanfaatkan empeng sebagai sarana praktis untuk menenangkan balita yang sedang menangis. Namun, kebiasaan tersebut dapat memicu masalah serius jika berlangsung dalam kurun waktu lama. Dokter spesialis merincikan bahaya serta efek kelamaan pakai empeng terhadap struktur susunan gigi anak. Penggunaan dot secara berlebihan berisiko mengubah posisi tumbuh gigi susu pada mulut bayi. Ibu dan ayah perlu menghentikan kebiasaan ini sebelum sang anak menginjak usia satu tahun.
Kebiasaan mengisap dot dalam durasi panjang mampu mendorong posisi rahang bawah mengarah ke depan. Akibatnya, susunan rahang anak menjadi tidak proporsional dan mengganggu bentuk estetika wajah mereka. Selain itu, anak berpotensi mengembangkan kebiasaan baru berupa mengisap jempol tangan sebagai pengganti. Orang tua bahkan semakin sulit menghentikan kebiasaan mengisap jempol tersebut pada usia selanjutnya. Ayah dan ibu harus mengurangi frekuensi pemakaian empeng saat anak beranjak tumbuh lebih besar.

Dokter menyarankan pendekatan persuasif agar anak melepaskan empeng tanpa mengalami tingkat stres berlebihan. Pembatasan penggunaan empeng saat menjelang tidur malam menjadi langkah awal yang sangat efektif. Sebab itu, pemahaman mengenai efek kelamaan pakai empeng sangat penting bagi setiap pasangan orang tua. Orang tua juga tidak perlu cemas berlebihan mengenai masa pertumbuhan gigi pertama anak. Pertumbuhan gigi susu pertama umumnya berlangsung saat bayi memasuki usia enam hingga tujuh bulan.
Variasi masa pertumbuhan gigi pada setiap anak berkisar antara lima sampai belas bulan. Dokter menganggap keterlambatan kemunculan gigi susu sebelum usia delapan belas bulan masih tergolong normal. Orang tua perlu membawa anak ke dokter jika gigi belum tumbuh hingga usia dua tahun. Pemberian Makanan Pendamping ASI yang tepat membantu merangsang pertumbuhan gigi anak secara optimal. Dengan demikian, penghentian efek kelamaan pakai empeng dan pemantauan berkala mendukung kesehatan gigi anak.















