LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Mengenal dan Mencegah Penyakit Ginjal pada Kucing

Oleh Lilis Anggraini
9 Juli 2026
4 menit baca

Mengenal gejala seperti haus berlebihan, perubahan buang air kecil, dan penurunan berat badan sangat penting untuk deteksi dini dan pencegahan komplikasi.

Mengenal dan Mencegah Penyakit Ginjal pada Kucing

Semarang (PANTURATV.ID) - Penyakit ginjal merupakan salah satu ancaman kesehatan paling serius dan umum yang kerap menyerang kucing peliharaan, khususnya bagi mereka yang telah memasuki usia senior. Apabila tidak terdeteksi dan tertangani sejak fase awal, kondisi medis ini dapat berubah menjadi penyakit kronis yang secara perlahan merenggut kualitas hidup serta mengancam keselamatan hewan kesayangan Anda.

Menurut pemaparan dari Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, spektrum gangguan ginjal pada kucing sangat beragam, mulai dari Penyakit Ginjal Kronis (CKD) hingga pembentukan batu ginjal atau nefrolitiasis. Secara statistik, kasus kegagalan fungsi ginjal pada kucing tua bahkan jauh lebih mendominasi dibandingkan dengan penyakit degeneratif lainnya, seperti diabetes atau masalah kardiovaskular.

Berbagai Faktor Pemicu Kerusakan Ginjal
Kerusakan pada organ penyaring racun ini tidak terjadi begitu saja. Prof. Ronny menjelaskan bahwa terdapat serangkaian faktor risiko yang bisa memicu gangguan ginjal pada kucing, di antaranya:

Paparan zat beracun eksternal yang bersifat fatal bagi metabolisme kucing, seperti konsumsi tanaman lili, jilatan pada cairan antibeku (antifreeze), hingga tertelan obat-obatan manusia.
Kondisi medis penyerta lainnya yang memperberat kerja ginjal, seperti riwayat infeksi, trauma fisik, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta gangguan kelenjar tiroid (hipertiroidisme).

Mengenali Gejala yang Sering Terabaikan
Sifat paling berbahaya dari penyakit ginjal adalah perkembangannya yang sangat lambat dan tersembunyi. Gejala klinis biasanya baru muncul ke permukaan ketika persentase kerusakan fungsi ginjal sudah berada pada tingkat yang cukup parah.

Oleh karena itu, para pemilik wajib mewaspadai perubahan fisik dan kebiasaan berikut:

  • Peningkatan rasa haus yang ekstrem, membuat kucing minum jauh lebih sering dari biasanya.
  • Munculnya masalah pencernaan yang ditandai dengan muntah-muntah dan hilangnya nafsu makan.
  • Penyusutan berat badan yang signifikan tanpa alasan yang jelas.
  • Tanda-tanda dehidrasi fisik, seperti gusi yang mengering, kulit yang kaku dan kehilangan tingkat elastisitasnya, serta mata yang terlihat sangat cekung.
  • Aroma napas kucing yang menyengat tajam dan berbau seperti amonia akibat penumpukan racun dalam darah.

Langkah Proaktif dalam Deteksi dan Pencegahan
Menyadari pentingnya deteksi dini, Prof. Ronny sangat menyarankan agar pemilik kucing, terutama yang merawat kucing di atas usia tujuh tahun, tidak mengabaikan jadwal pemeriksaan medis. Tes laboratorium yang mencakup pemeriksaan darah dan urine secara berkala sangat krusial untuk menangkap sinyal bahaya sebelum organ ginjal rusak permanen.

Selain itu, pemindaian ultrasonografi (USG) juga sangat direkomendasikan untuk memetakan keberadaan batu ginjal atau kelainan struktural organ dalam.

Untuk meminimalisir risiko dan menjaga ginjal kucing tetap berfungsi optimal, ada beberapa rutinitas perawatan yang dapat diterapkan di rumah:

  • Memastikan kucing selalu terhidrasi dengan baik dengan menyediakan pasokan air minum yang bersih, segar, atau menggunakan water fountain agar air yang mengalir menarik minat mereka untuk minum.
63f4659487f44.jpg
  • Menambahkan porsi makanan basah (wet food) dalam diet harian guna mendongkrak asupan cairan langsung ke dalam sistem tubuh.
  • Menjadwalkan pemeriksaan darah dan urine secara disiplin setiap 3 hingga 6 bulan khusus untuk kucing yang sudah tua.
  • Membawa kucing untuk pemeriksaan USG apabila terdapat indikasi keluhan dari dokter hewan.
  • Menjauhkan secara ketat segala bentuk obat-obatan manusia—khususnya parasetamol dan ibuprofen—karena senyawa ini bersifat sangat beracun dan mematikan bagi kucing.

Intervensi Medis dan Penyesuaian Pola Makan
Prof. Ronny menegaskan agar pemilik tidak mengambil langkah sepihak, seperti sembarangan mengubah pola makan kucing, saat gejala sakit mulai terlihat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter hewan. Diagnosis yang cepat serta intervensi medis yang tepat di tahap awal adalah kunci utama yang menentukan peluang hidup kucing ke depannya.

Apabila seekor kucing secara resmi terdiagnosis mengidap Penyakit Ginjal Kronis (CKD), dokter umumnya akan mewajibkan transisi ke makanan khusus ginjal (renal diet). Formula makanan ini dirancang dengan kandungan fosfor yang sangat rendah namun tetap mempertahankan protein berkualitas tinggi agar sisa metabolisme tidak memberatkan fungsi ginjal yang tersisa.

Sementara itu, untuk kasus nefrolitiasis yang melibatkan batu struvit, dokter hewan akan meresepkan diet pelarut khusus untuk menghancurkan endapan kristal tersebut. Tergantung pada komplikasi yang dialami masing-masing individu kucing, terapi tambahan mutlak diperlukan. Penanganan medis lanjutan ini dapat berupa terapi cairan subkutan untuk mencegah dehidrasi kronis, pemberian obat penurun tekanan darah (antihipertensi), suplemen perangsang sel darah merah untuk mengatasi anemia, dan resep antibiotik apabila terdapat komplikasi infeksi.

Kesimpulannya, tingkat kepekaan dan perhatian Anda sebagai pemilik adalah pertahanan paling berharga bagi kucing. Mengingat penyakit ini sering bertindak layaknya pembunuh senyap yang berkembang tanpa memberikan peringatan dini yang mencolok, rutin memeriksakan kesehatan mereka ke klinik hewan adalah investasi terbaik demi memastikan mereka tetap hidup nyaman dan berumur panjang di sisi Anda.

Tags

#penyakit ginjal kucing#kesehatan kucing#kucing senior#CKD kucing#gejala penyakit ginjal#pencegahan penyakit ginjal kucing#IPB University#perawatan kucing#deteksi dini ginjal kucing#Prof Ronny Rachman Noor#gejala ginjal kucing#perawatan kucing senior#Prof. Ronny Rachman Noor#Semarang#pencegahan penyakit kucing#nefrolitiasis kucing#kucing peliharaan#deteksi dini ginjal

Tentang Penulis

Lilis Anggraini

Penulis

Belum ada bio untuk penulis ini.

10 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori