Semarang (PANTURATV.ID) Banyak ibu kerap mencari cara mengatasi anak takut berpisah saat memulai hari mereka. Buah hati sering menangis histeris ketika ibu atau ayah hendak pergi bekerja keluar. Oleh karena itu, orang tua wajib memahami kondisi emosional buah hati dengan saksama. Rasa cemas ini muncul ketika si kecil menyadari ketiadaan sosok pelindung di dekatnya. Namun, para ahli menegaskan bahwa reaksi emosional ini merupakan proses tumbuh kembang normal. Selanjutnya, ibu perlu menanamkan pemahaman bahwa kepergian sementara tidak bermakna sebuah penelantaran permanen.
Pertama, orang tua harus memberitahu anak sebelum pergi untuk membangun rasa percaya diri. Selain itu, ayah bisa membicarakan rencana kegiatan menyenangkan yang akan anak lakukan nanti. Strategi ini sukses mengarahkan fokus si kecil pada hal positif selama ibu pergi. Kedua, kamu wajib menciptakan rutinitas perpisahan singkat berupa pelukan atau ucapan sayang sederhana. Sebaliknya, ritual pamit yang terlalu lama justru memperparah rasa cemas pada diri anak. Setelah mengucapkan salam, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk melanjutkan aktivitas.

Fakta penting lainnya dari cara mengatasi anak takut berpisah melibatkan janji waktu pulang. Anak balita belum memiliki pemahaman konsep waktu seperti orang dewasa pada masa kini. Oleh sebab itu, orang tua harus menggunakan patokan waktu aktivitas yang mudah anak pahami. Misalnya, ayah berjanji pulang ke rumah setelah si kecil selesai menyantap makan siang. Selanjutnya, orang tua pantang memarahi buah hati saat mereka menangis meluapkan rasa sedih. Bahkan, sikap tenang dan optimistis dari ibu mampu membuat anak merasa jauh aman.
Langkah final dari cara mengatasi anak takut berpisah berfokus pada tahapan latihan perpisahan. Mulailah menitipkan si kecil kepada keluarga dekat dengan durasi yang sangat singkat dahulu. Dengan demikian, anak perlahan belajar menumbuhkan rasa berani saat berada jauh dari ibu. Akhirnya, kedisiplinan dan kesabaran orang tua memegang peran penting dalam mendidik mental anak. Kesimpulannya, praktik pengasuhan yang baik akan mencetak generasi masa depan yang tangguh mandiri.














