Semarang (PANTURATV.ID) - Banyak orang sering menyamakan dua kondisi medis yang sebenarnya tidak persis serupa. Masyarakat kerap mengabaikan beda Alzheimer dan demensia dalam rutinitas kehidupan sehari-hari mereka. Fakta medis membuktikan kedua kondisi kognitif tersebut memiliki karakteristik yang berlainan mutlak. Pakar kesehatan secara tegas memisahkan definisi dari kedua gangguan daya ingat ini. Oleh karena itu, kamu harus mulai memahami rincian medis keduanya mulai sekarang.
Dokter Zaldy Tan menjelaskan bahwa demensia bukanlah nama sebuah penyakit yang spesifik. Istilah demensia memayungi berbagai penyakit yang menurunkan fungsi kognitif penderita secara menyeluruh. Selanjutnya, dokter mengategorikan penyakit Alzheimer sebagai salah satu jenis demensia yang terbanyak. Organisasi Kesehatan Dunia juga mencatat kondisi Alzheimer sebagai sindrom kognitif paling umum. Selain itu, pakar medis menemukan jenis penyakit lain seperti gangguan demensia vaskular.
Penyakit lain mencakup demensia frontotemporal dan penurunan kognitif akibat konsumsi alkohol berlebih. Lebih lanjut, setiap penyakit membawa tanda serta proses perkembangan yang sangat unik. Claire Sexton memaparkan bahwa gejala pertama pasien sangat menentukan beda Alzheimer dan demensia. Pasien Alzheimer selalu kehilangan memori episodik sebagai gejala penyakit mereka paling awal. Penderita jenis demensia lain justru menunjukkan respons lambat atau perubahan kepribadian drastis.

Protein amiloid yang menumpuk dalam sel saraf otak selalu memicu penyakit Alzheimer. Tumpukan protein tersebut merusak komunikasi saraf lalu mematikan fungsi belajar pada seseorang. Akibatnya, penderita kehilangan kemampuan mengingat sebelum mereka lupa cara berbicara dan berjalan. Dokter Douglas Scharre menjabarkan tahap awal gangguan yang menyerang ingatan manusia ini. Beliau menyebut fase penyakit awal ini sebagai tahap penurunan fungsi kognitif ringan.
Kamu belum memerlukan bantuan orang lain saat memasuki fase kognitif ringan ini. Namun, kamu sangat membutuhkan dukungan keluarga ketika memasuki tahap demensia yang parah. Penderita demensia biasanya meminta bantuan orang lain untuk membayar tagihan bulanan mereka. Kamu wajib menjadwalkan agenda pemeriksaan kognitif secara rutin bersama dokter ahli saraf. Langkah deteksi secara dini ini memberikan pilihan perawatan medis yang jauh lebih baik.
Dokter akan memeriksa rekam medis dan mengevaluasi seluruh refleks saraf tubuh pasien. Mereka juga menjalankan tes darah guna memastikan organ ginjal berfungsi dengan lancar. Tenaga medis juga akan rutin memeriksa tingkat kecukupan vitamin dalam tubuh penderita. Obat baru dari Badan Pengawas Obat hanya bekerja pada tahap kognitif ringan. Kesimpulannya, hasil deteksi awal sangat menegaskan beda Alzheimer dan demensia pada proses perawatannya.
Kamu bisa mencegah masalah kognitif dengan menjaga gaya hidup sehat setiap hari. Sexton menyarankan semua orang untuk selalu aktif secara fisik maupun berinteraksi sosial. Akhirnya, kamu wajib menjaga stabilitas tekanan darah agar bebas dari kerusakan memori. Pengetahuan mengenai beda Alzheimer dan demensia pasti memandumu meraih masa tua yang sehat.











