Semarang (PANTURATV.ID) - Italia secara global telah lama dipuja sebagai pusat lahirnya diet Mediterania—sebuah pola makan ideal yang kaya akan sayuran segar, kacang-kacangan, minyak zaitun murni, biji-bijian utuh, serta ikan laut. Namun, reputasi gemilang ini kini berbenturan dengan realitas pahit. Negara ini tengah menghadapi darurat kesehatan masyarakat yang kian memburuk: lonjakan angka obesitas pada anak-anak dan remaja, khususnya di kawasan selatan.
Berdasarkan laporan BBC pada Juli 2026, lebih dari 40 persen anak berusia 8 hingga 9 tahun di beberapa wilayah selatan Italia tercatat mengalami kelebihan berat badan yang signifikan. Hal ini menandakan adanya pergeseran budaya makan yang drastis, menjauhkan generasi penerus dari tradisi kuliner leluhur mereka yang menyehatkan.
Krisis ini tergambar jelas melalui kisah Salvatore, seorang remaja berusia 17 tahun yang bobot tubuhnya telah mencapai 170 kilogram. Kondisi fisik yang ekstrem ini tidak hanya membatasi ruang geraknya, tetapi juga merampas kemampuannya untuk menjalani aktivitas harian layaknya remaja normal. Satu-satunya jalan keluar bagi Salvatore adalah melalui operasi pengecilan lambung.

Sayangnya, tindakan medis tersebut tidak bisa serta-merta dilakukan. Bobotnya yang terlalu besar menjadikan operasi sangat berisiko. Sebagai intervensi awal, tim medis harus memberikan terapi suntikan penekan nafsu makan berbasis GLP-1 agar ia bisa menurunkan berat badan ke batas aman sebelum prosedur pembedahan dapat dieksekusi.
Fenomena ini bukanlah kasus terisolasi. Dokter Sonja Chiappetta, seorang spesialis penanganan obesitas berat yang telah berpraktik selama 15 tahun di Rumah Sakit Betania, Ponticelli (pinggiran Napoli), mencatat tren yang sangat mengkhawatirkan.
Pergeseran Demografi Pasien: Jika satu dekade lalu mayoritas pasien yang membutuhkan operasi bariatrik (pemotongan lambung hingga 90 persen) adalah orang dewasa berusia 50-an, kini ruang praktiknya dipenuhi oleh kalangan remaja.
Ancaman Usia Dini: Munculnya pasien-pasien yang baru menginjak usia 16 tahun dengan tingkat obesitas yang mengancam nyawa, sebuah situasi yang secara blak-blakan disebut Dr. Chiappetta sebagai sesuatu yang sangat menakutkan.
Mengapa negara dengan warisan kuliner sesehat Italia bisa terjebak dalam masalah ini? Menurut Dokter Valter Longo, Direktur Longevity Institute dari University of Southern California, jawabannya ada pada hilangnya budaya makan tradisional. Saat ini, diperkirakan hanya sekitar 10 persen dari populasi Italia yang masih setia menjalankan diet Mediterania yang otentik.
Generasi muda Italia kini terperangkap dalam pola makan modern yang didominasi oleh karbohidrat olahan dan makanan ultra-proses, yang sering dijuluki dengan istilah "Lima P":

- Pizza (Piza)
- Pasta
- Potatoes (Kentang)
- Protein (Seringkali berupa daging olahan)
- Pane (Roti)
Bahkan, hidangan seperti piza yang dulunya cukup sederhana, kini kerap dimodifikasi dengan berbagai topping tinggi kalori seperti kentang goreng, sosis, dan aneka bahan makanan yang digoreng, sehingga melipatgandakan asupan kalori dalam satu kali makan.
Masalah obesitas ini bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana kebiasaan itu terbentuk sejak balita. Dokter Roberto Berni Canani, dokter anak dan spesialis obesitas dari Federico II University, Napoli, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa ia kerap merawat anak berusia 2 hingga 3 tahun yang bobotnya sudah mencapai 25 kilogram.
Ironisnya, banyak orang tua berada dalam fase penyangkalan atau sama sekali tidak menyadari bahwa anak mereka mengalami obesitas. Mereka biasanya datang ke rumah sakit karena keluhan kesehatan umum seperti batuk, sakit perut, atau diare, tanpa menyadari bahwa akar masalahnya mungkin terkait dengan berat badan anak.

Penumpukan kalori ini terjadi secara perlahan namun pasti, didorong oleh konsumsi camilan tidak sehat sepanjang hari, minuman manis tinggi gula, minimnya asupan serat dari buah dan sayur, serta rendahnya literasi nutrisi di dalam keluarga.
Di sisi lain, institusi pendidikan yang seharusnya menjadi agen perubahan justru menghadapi kendala fisik. Banyak sekolah di Italia beroperasi di bangunan-bangunan bersejarah yang usianya sudah sangat tua. Akibatnya, mereka kekurangan fasilitas dan ruang terbuka yang memadai untuk memfasilitasi aktivitas olahraga modern bagi para siswa, sehingga gaya hidup sedenter (kurang gerak) semakin sulit dihindari.
Menyadari darurat kesehatan ini, berbagai upaya mulai digencarkan. Di Napoli, sebuah program literasi gizi berskala besar telah diluncurkan, menjangkau 17.000 siswa di 25 sekolah, yang juga menyertakan pendampingan bagi keluarga agar mereka dapat mereformasi menu makan di rumah. Meski begitu, tantangan implementasi tetap ada.
Sebagaimana diungkapkan oleh Ciro, seorang remaja berusia 18 tahun, sekadar memberikan edukasi seringkali tidak cukup. Menurutnya, mayoritas remaja sudah mengetahui perbedaan antara makanan sehat dan "sampah", namun mereka memilih untuk tidak memedulikannya.
Oleh karena itu, intervensi yang dibutuhkan tidak bisa hanya mengandalkan perubahan perilaku individu. Italia mengambil langkah revolusioner dan progresif secara hukum. Pada tahun 2025, Italia mencetak sejarah sebagai negara pertama di dunia yang secara resmi mengesahkan undang-undang nasional yang mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit kronis, progresif, dan dapat kambuh (relaps).
Kebijakan ini menjadi tonggak penting karena mengubah paradigma masyarakat; obesitas tidak lagi semata-mata dihakimi sebagai akibat dari kemalasan atau pilihan gaya hidup individu yang buruk. Sebaliknya, obesitas kini diakui sebagai kondisi medis kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, genetika, lingkungan, dan kesenjangan sosial.
Langkah ini diharapkan mampu memberikan perlindungan medis yang lebih baik dan meredam krisis kesehatan yang tengah menggerogoti generasi masa depan Italia tersebut.















