Bekasi (PANTURATV.ID) - Mengenakan seragam sekolah merupakan rutinitas biasa bagi sebagian besar anak. Namun, kesempatan berharga itu menjadi barang mahal bagi Dea Aprilinda. Gadis remaja ini baru merasakan bangku sekolah dasar pada usia 12 tahun. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Dea tidak dapat mengenyam pendidikan sejak kecil. Oleh karena itu, perjuangan Dea meraih cita-cita baru benar-benar dimulai pada tahun lalu. Ia pertama kali mendapat kesempatan belajar di Sekolah Rakyat Cevest wilayah Kayuringin. Kini, Dea dengan penuh semangat melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi. Pendidikan merupakan sebuah kesempatan emas yang sebelumnya nyaris tidak ia miliki sama sekali.
Bagi Dea, bersekolah tidak sekadar memakai seragam atau sekadar bertemu teman-teman baru setiap hari. "Bagi saya, kalau tidak ada Sekolah Rakyat, saya tidak bisa belajar," ujar Dea tegas. Namun, kesempatan berharga ini mengharuskan Dea mengambil keputusan berat untuk berpisah sementara dari keluarga. Ia sekarang harus rela meninggalkan sang ibu tercinta dan tinggal sangat jauh dari rumah.
Selama ini, remaja asal Bantargebang tersebut terbiasa membantu berbagai pekerjaan rumah secara rutin. Selain itu, ia juga selalu setia menemani ibunya menjalani berbagai aktivitas harian. Ketika mendapat tawaran masuk asrama, Dea tentu saja sempat merasa sangat ragu dan khawatir. "Saya takut jauh dari orangtua. Kasihan Mama sendiri, tidak ada yang membantu," ucapnya lirih.
Meskipun demikian, sang ibu justru memberikan dukungan penuh dan meminta Dea mengambil peluang emas tersebut. "Udah sekolah aja biar pintar. Kamu jaga kesehatan aja," kata Dea menirukan ucapan lembut ibunya. Oleh sebab itu, kalimat sederhana ini membuat Dea mantap melangkahkan kaki menuju kehidupan asrama. Tinggal di tempat baru menuntut gadis remaja ini untuk melakukan segala aktivitas secara mandiri. Sebagai contoh, Dea sebelumnya mengaku belum bisa mencuci pakaian kotornya sendiri di rumah. Kemudian, sang ibu dengan sabar mengajari anak perempuannya itu sampai benar-benar mahir mencuci baju. Sekarang, mencuci pakaian kotor telah menjadi bagian dari rutinitas harian Dea di lingkungan asrama.

Selanjutnya, Dea juga mulai terbiasa menjalani berbagai kegiatan asrama secara disiplin dan sangat tertib. Dia rajin membersihkan kamar tidur, merawat lingkungan sekolah, hingga menyapu halaman masjid bersama teman-temannya. Walaupun merasa lelah, Dea menganggap seluruh rangkaian aktivitas tersebut sebagai sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. "Dulu saya juga sering membantu Mama menyapu, mencuci piring, dan mengangkat baju. Jadi udah terbiasa," jelasnya.
Di sisi lain, rasa rindu kepada sosok ibu tetap sering datang menghampiri hati Dea. Ketika perasaan sedih itu muncul, dia segera mengingat pesan ibunya agar selalu bersemangat belajar. "Kalau ingat Mama, saya doakan saja. Kalau sedih, saya cerita ke teman," tambahnya kemudian.
Dea sangat menyadari konsekuensi masa depan jika ia menolak kesempatan emas dari Sekolah Rakyat tersebut. "Kalau tidak sekolah di sini, mungkin saya akan membantu Mama bekerja di rongsokan," ungkapnya jujur. Sebelumnya, Dea memang sering membantu pekerjaan kasar yang berkaitan erat dengan aktivitas harian ibunya.
Dari pekerjaan melelahkan tersebut, ia biasanya mendapatkan upah sebesar lima puluh ribu rupiah setiap bulan. Uang tersebut tidak ia pakai untuk jajan, melainkan ia tabung demi membeli sepasang sepatu. Dengan demikian, perjuangan Dea meraih cita-cita membuktikan bahwa jarak bukan lagi hambatan untuk sukses. Ia bahkan menyimpan sebuah mimpi yang sangat besar untuk masuk ke Akademi Kepolisian kelak. "Saya bercita-cita untuk sekolah Akpol. Makanya saya bertahan di sini," pungkas Dea dengan sorot mata penuh harap.












