Yogyakarta (PANTURATV.ID) - Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil merancang sandal pintar pendeteksi komplikasi diabetes yang sangat inovatif. Mereka sepakat memberi nama produk alas kaki canggih ini dengan sebutan Glucowrap. Inovasi medis tersebut secara khusus menyasar para penderita penyakit diabetes melitus tipe 2. Selain itu, alat cerdas ini membantu pasien memantau perubahan kondisi telapak kaki mereka. Kondisi neuropati perifer sering menurunkan tingkat sensitivitas saraf kaki para penderita diabetes. Akibatnya, para penderita jarang merasakan tekanan fisik atau luka gesekan yang sangat berbahaya.
Oleh karena itu, lima mahasiswa lintas disiplin ilmu bersatu merancang teknologi medis ini. Mahasiswa bernama Rina Putri Cahyati memimpin tim berbakat tersebut untuk mewujudkan ide brilian mereka. Selanjutnya, pihak kementerian terkait membiayai riset andalan ini melalui program PKM Karsa Cipta. Lebih lanjut, pengembangan inovasi sandal pintar pendeteksi komplikasi diabetes ini sudah melewati tahapan pengujian klinis awal. Mereka sukses melangsungkan proses uji coba penting tersebut di Klinik Korpagama Yogyakarta.

Kemudian, alat modern ini menggunakan komponen sensor tekanan, suhu, dan kelembapan secara bersamaan. Selain itu, sensor optik ikut bekerja memantau parameter aliran darah pada telapak kaki pasien. Sistem langsung mengirimkan data rekaman berharga tersebut masuk ke aplikasi ponsel secara seketika. Selanjutnya, program khusus mengelompokkan risiko luka kaki menjadi kategori sangat normal, ringan, atau tinggi. Oleh karena itu, pengguna awam bisa mengenali berbagai perubahan kaki yang memerlukan perhatian medis. Alat canggih ini juga memiliki fitur stimulasi termal dan mikrovibrasi berintensitas sangat rendah. Akibatnya, para pengguna merasa lebih nyaman saat memakai alas kaki cerdas ini setiap hari. Tambahan pula, lapisan material serat bambu dengan kitosan memberikan perlindungan antibakteri yang sangat efektif.
Namun, kelompok pengembang masih terus mengevaluasi dan menyempurnakan berbagai fitur penting perangkat kesehatan ini. Mereka belum memastikan tingkat akurasi pemantauan jangka panjang untuk mencegah luka pasien diabetes. "Glucowrap saat ini masih kami kembangkan dan belum dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis," tegas Rina mengklarifikasi fungsinya.

Selanjutnya, Rina sangat berharap inovasi pintar tersebut kelak menjadi alat bantu yang sangat praktis. Kemudian, tim peneliti menginginkan para pengguna lebih sadar melakukan rutinitas perawatan kaki secara mandiri. Sebaliknya, setiap pasien tetap wajib memeriksa kondisi telapak kaki secara teliti setiap hari. Oleh karena itu, Anda harus rutin mencari tanda kemerahan, bengkak, atau bagian kulit lecet. Dengan demikian, penderita diabetes bisa mencegah kerusakan jaringan kulit menyebar luas menjadi infeksi akut. Pada akhirnya, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan inovasi teknologi medis semacam ini untuk masa depan.












