Semarang (PANTURATV.ID) - Ancaman polusi lingkungan yang masif kini merambah piring makan masyarakat secara sangat meluas. Bahaya nyata dari mikroplastik dalam makanan harian tidak lagi sekadar mengambang pada perairan lautan lepas. Saat ini, partikel berukuran mikroskopis tersebut menyusup langsung ke berbagai jenis bahan pangan. Akibatnya, masyarakat setiap hari tanpa sadar menelan buah, sayur, serta berbagai protein hewani. Oleh karena itu, kita semua harus segera mewaspadai krisis lingkungan yang semakin memburuk.
Selanjutnya, jurnal Environmental Research merilis sebuah hasil riset terbaru pada bulan Februari 2024. Para peneliti mengonfirmasi bahwa partikel renik ini mampu merangsek masuk ke jaringan tanaman. Selain itu, limbah plastik juga bersarang pada tubuh hewan melalui perantara ekosistem tanah. Bahkan, aliran air irigasi dan seluruh proses budidaya turut memperparah tingkat penyebaran polusi. Para ahli dari berbagai universitas terkemuka dunia menguji lebih dari dua belas produk protein. Mereka meneliti secara teliti daging sapi, ayam, babi, tahu, hingga alternatif daging nabati. Hasilnya mengejutkan karena hampir seluruh sampel produk protein tersebut memiliki kandungan serpihan plastik.
Sementara itu, beraneka ragam buah dan sayur segar juga menyimpan polusi kimia serupa. Jurnal Environmental Science sebelumnya mencatat temuan mengkhawatirkan ini pada bulan Agustus tahun 2020. Tim peneliti Universitas Catania membuktikan bahwa persoalan mikroplastik dalam makanan paling parah melanda apel. Lebih lanjut, apel menempati urutan tertinggi dengan kandungan nyaris dua ratus ribu partikel. Buah pir juga menyusul dengan menyimpan potongan plastik dalam jumlah yang sangat teramat besar. Untuk kategori sayuran segar, brokoli dan wortel memimpin daftar dengan angka yang tinggi.

Menariknya, pecahan plastik berukuran terkecil bersemayam pada wortel sedangkan potongan terbesar hinggap pada selada. Bagaimana polusi lingkungan berukuran sangat kecil ini bisa meresap masuk ke dalam bagian tanaman? Akar tanaman menyerap secara langsung zat polutan tersebut melalui proses biologi sangat alami. Sejumlah pakar membuktikan bahwa nanoplastik mampu menembus sistem perakaran selada dan gandum secara utuh. Kondisi polusi air serta tanah justru mempercepat fenomena penyerapan limbah berbahaya pada akar. Dengan demikian, sumber utama mikroplastik dalam makanan berasal langsung dari pencemaran lingkungan sekitar.
Krisis polusi global ini rupanya telah menyusup ke rantai makanan manusia secara sangat langsung. Sion Chan dari Greenpeace Asia Timur memberikan sebuah peringatan keras mengenai hal berbahaya ini. Menurutnya, umat manusia kemungkinan besar ikut memakan polimer plastik saat menggigit sebuah apel segar. Kesimpulannya, kita kini menghadapi tantangan besar guna mengurangi jumlah mikroplastik dalam makanan harian kita. Oleh sebab itu, setiap individu wajib memulai langkah nyata guna membatasi pemakaian kemasan plastik. Kolaborasi semua pihak akan menyelamatkan masa depan kesehatan manusia dari ancaman pencemaran lingkungan global.













