Bandung (PANTURATV.ID) - Musim kemarau yang melanda berbagai wilayah pada siklus tanam kedua tahun 2026 membawa dampak yang cukup signifikan bagi sektor pertanian di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Potensi kekeringan yang membayangi kawasan ini diproyeksikan dapat mengurangi volume produksi padi daerah hingga berkisar antara 10 hingga 15 persen apabila tidak segera ditangani melalui langkah intervensi teknis yang cepat dan terukur di lapangan.
Berdasarkan data resmi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat, penurunan pasokan gabah ini sebenarnya telah mulai terlihat sejak awal tahun. Sepanjang semester pertama tahun 2026, pencapaian produksi padi daerah tercatat sebanyak 144.977 ton Gabah Kering Panen, yang setara dengan 81.514 ton beras siap konsumsi. Angka ini mencatatkan penurunan sebesar 11,59 persen jika dibandingkan dengan capaian periode yang sama pada tahun 2025, di mana produksi sempat menyentuh angka 163.974 ton Gabah Kering Panen atau setara 92.194 ton beras.
Dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem ini, pemerintah daerah menyelaraskan target produksi padi sepanjang tahun 2026 menjadi sebesar 265.368,2 ton Gabah Kering Panen. Angka target ini disesuaikan agar lebih realistis ketimbang realisasi tahun sebelumnya yang mampu mencapai 302.518,3 ton. Luas lahan baku sawah di Kabupaten Bandung Barat sendiri tercatat sebesar 18.093,77 hektar. Sebagian besar di antaranya merupakan sawah nonirigasi atau tadah hujan seluas 14.356,34 hektar, sementara sawah dengan fasilitas irigasi teknis hanya mencakup area seluas 3.737,43 hektar yang tersebar di 13 kecamatan sentra pangan.

Meskipun hingga saat ini belum ada desa yang dilaporkan mengalami krisis air total, pemantauan mendalam oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman mengidentifikasi bahwa setidaknya 433 hektar lahan persawahan berada dalam kategori sangat rentan dan terancam kekeringan. Untuk mengantisipasi meluasnya dampak fenomena iklim tersebut, pemerintah telah menyalurkan bantuan berupa 157 unit mesin pompa air berukuran tiga inci dari anggaran APBN 2026. Mesin penyedot air ini disebar ke 13 kecamatan dan diperkirakan mampu memasok air untuk area seluas 785 hingga 1.500 hektar sawah.
Di samping penyediaan sarana perpompaan, para petani juga didorong untuk mengadopsi varietas padi yang tahan terhadap kelangkaan air seperti Inpari 42 dan Inpari 48. Langkah pendukung lainnya meliputi penerapan pola budidaya hemat air, penyesuaian jadwal tanam, serta diversifikasi komoditas pertanian. Apabila kondisi buruk seperti gagal panen tetap terjadi, pemerintah daerah telah menyiagakan cadangan benih darurat, membantu proses verifikasi kerusakan lahan untuk klaim Asuransi Usaha Tanaman Pangan, serta mengamankan cadangan pangan daerah demi menjaga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat.
Krisis kekeringan merupakan tantangan berulang yang memerlukan respons cepat serta solusi jangka panjang yang terintegrasi. Langkah mitigasi yang ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, seperti pembagian mesin pompa air, percepatan distribusi benih tahan kering, serta pengaktifan skema asuransi pertanian, merupakan bentuk tindakan nyata yang sangat tepat untuk melindungi mata pencaharian para petani. Namun, agar ketahanan pangan daerah tidak terus rentan terhadap perubahan iklim, percepatan modernisasi infrastruktur irigasi teknis serta edukasi manajemen air berbasis komunitas harus terus diutamakan sebagai agenda prioritas di masa mendatang.












