Semarang (PANTURATV.ID) - Pandangan masyarakat yang menilai bahwa gangguan mata minus atau miopia pada anak semata-mata terjadi akibat faktor genetika atau keturunan kini telah dipatahkan oleh ahli kesehatan. Melalui sebuah acara diskusi kesehatan mata, seorang dokter spesialis mata bernama Dr. dr. Tri Rahayu menjelaskan bahwa faktor lingkungan serta kebiasaan hidup sehari-hari memegang peran yang jauh lebih besar dalam memicu fenomena ini. Berdasarkan pengamatan medis, pola hidup digital yang sangat tinggi serta minimnya waktu yang dihabiskan anak-anak untuk bergerak di area terbuka menjadi penyebab utama di balik melesatnya jumlah kasus mata minus pada generasi muda saat ini.
Kondisi tersebut terlihat semakin memprihatinkan setelah masa pandemi berlalu. Selama masa pembatasan sosial, anak-anak terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai atau melakukan screen time, baik untuk belajar maupun mencari hiburan. Akibatnya, anak yang sebenarnya tidak memiliki riwayat keluarga bermata minus pun kini berisiko tinggi harus mengenakan kacamata jika pola penggunaan matanya salah dan tidak segera diperbaiki.
Untuk mengatasi ancaman ini, pakar kesehatan menawarkan solusi yang sangat sederhana, mudah dijangkau, dan tanpa biaya besar. Orang tua disarankan untuk mendorong anak-anak mereka agar kembali aktif bermain di lingkungan alam terbuka. Paparan sinar matahari alami di luar ruangan dinilai memiliki dampak yang sangat positif bagi perkembangan organ penglihatan anak. Selain itu, langkah preventif ini harus diiringi dengan pembatasan yang ketat terhadap kegiatan melihat dalam jarak dekat yang berdurasi lama, seperti bermain permainan video, menggunakan ponsel pintar, ataupun menatap monitor komputer.

Para orang tua diingatkan untuk tidak meremehkan kondisi mata minus anak yang terus bertambah parah setiap tahunnya. Apabila gangguan penglihatan ini dibiarkan melonjak drastis hingga mencapai angka yang tinggi, akan muncul ancaman komplikasi medis yang sangat berbahaya di masa depan. Meskipun katarak biasanya diidentifikasi sebagai penyakit yang menyerang kelompok lanjut usia karena proses penuaan, kondisi gangguan penglihatan ekstrem pada anak bisa mempercepat datangnya penyakit tersebut.
Selain katarak dini, bahaya penyakit berat lain seperti glaukoma hingga kerusakan serius berupa degenerasi saraf retina mata juga mengintai. Penurunan fungsi penglihatan yang ekstrem ini sangat ditakuti karena berpotensi memicu kebutaan total, sehingga intervensi sejak usia dini mutlak diperlukan.
Kesehatan mata anak adalah investasi masa depan yang tidak boleh diabaikan. Di tengah gempuran era digital, membiarkan anak kecanduan gawai tanpa batasan sama saja dengan menabung risiko kebutaan di masa depan mereka. Orang tua wajib mengambil tindakan nyata sekarang juga dengan membatasi waktu layar dan membawa anak-anak kembali aktif bergerak di bawah sinar matahari demi menyelamatkan penglihatan mereka.














