Morowali (PANTURATV.ID) - Kawasan industri nikel terus tumbuh sangat pesat di wilayah Kabupaten Morowali. Oleh karena itu, pemerintah mendirikan sekolah tambang di Morowali pada tahun 2017 silam. Institusi bernama SMK Negeri Pertambangan Bungku ini hadir untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja. Sekolah kejuruan ini menyiapkan pemuda daerah agar siap menghadapi derasnya arus investasi nikel.
Selanjutnya, kehadiran sekolah tambang di Morowali ini menarik minat siswa dari berbagai daerah. Sebagian besar murid memilih langsung bekerja setelah mereka berhasil menyelesaikan masa pendidikan kejuruan. Selain itu, sekolah selalu berusaha menjaga keterkaitan materi pembelajaran dengan kebutuhan dunia industri. Kepala SMK Negeri Pertambangan Bungku, Sarfin Suaib, menjelaskan implementasi kurikulum merdeka di sekolahnya. "Di SMK itu sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori," kata Sarfin.
Namun, hubungan antara dunia pendidikan dan kawasan industri tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sarfin mengaku kerap mengkhawatirkan nasib para siswa saat melaksanakan program praktik kerja lapangan. Menurutnya, pihak perusahaan sering memperlakukan siswa magang selayaknya pekerja penuh waktu yang dewasa.
"Kondisinya selalu disamakan dengan tenaga kerja sesungguhnya yang umurnya sudah 18 tahun ke atas," ujarnya. Banyak peserta magang tersebut datang ke lokasi perusahaan murni hanya untuk tujuan belajar.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Morowali mulai menjadikan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas. Kepala Bappeda Morowali, Hasyim, menegaskan pentingnya pendidikan untuk mendukung masa depan daerah industri.
"Karena pendidikan itu penting bagi masa depan Morowali sebagai daerah industri," ujar Hasyim. Akan tetapi, ekspansi industri nikel juga membawa dampak negatif terhadap sektor ekonomi tradisional. Luas lahan pertanian terus menyusut tajam karena masyarakat perlahan melakukan alih fungsi lahan.
Oleh sebab itu, pengamat ekonomi menyoroti risiko ketergantungan daerah terhadap satu sektor industri. Direktur Eksekutif INDEF GTI, Imaduddin Abdullah, menilai Morowali sedang menghadapi gejala penyakit ekonomi. Penyakit ini muncul ketika sektor ekstraktif tumbuh sangat dominan lalu menggeser sektor lainnya.
"Diversifikasi yang sahih bisa ditentukan dengan kerangka kompleksitas ekonomi," ujar Imaduddin mengingatkan pihak pemerintah. Pada akhirnya, pemerintah harus memastikan investasi nikel benar-benar menjadi fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan.












