Dakar (PANTURATV.ID) - Di tengah riuk pikuk kehidupan Kota Dakar, tradisi menyeduh dan menikmati teh hijau yang dikenal sebagai Ataya tetap terjaga dengan lestari. Ritual minum teh ini dilakukan dalam tiga tahapan penyeduhan yang berbeda rasa, mulai dari yang sangat pahit hingga manis melambangkan fase kehidupan. Setiap sore, warga Dakar berkumpul di depan rumah atau sudut jalan untuk menyeduh teh ini bersama-sama menggunakan teko kecil khas.
Proses pembuatan Ataya membutuhkan kesabaran tinggi karena teh diseduh secara perlahan di atas bara api kecil. Keterampilan mengocok teh hingga menghasilkan busa tebal di atas cangkir menjadi kebanggaan tersendiri bagi sang penyeduh. Di momen inilah interaksi sosial yang sesungguhnya terjadi, di mana percakapan hangat mengalir tanpa sekat antara anggota keluarga, tetangga, hingga pejalan kaki yang lewat.
Gaya hidup berkumpul sambil menikmati teh ini menjadi media efektif untuk mempererat tali persaudaraan serta menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan. Di era serba cepat seperti sekarang, tradisi Ataya justru mengajarkan warga Dakar untuk sejenak melambatkan tempo hidup dan menikmati kebersamaan. Hal ini menjadikan suasana kota terasa ramah dan hangat bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Banyak warung kopi modern dan pusat kegiatan pemuda di Dakar kini tetap mempertahankan sudut khusus untuk ritual menyeduh teh tradisional ini. Kombinasi antara suasana modern dan aroma teh mentol yang khas menciptakan pengalaman bersantai yang unik bagi warga lokal maupun wisatawan. Kehadiran Ataya membuktikan bahwa nilai kekeluargaan tetap menjadi pilar utama dalam gaya hidup masyarakat Senegal.
Tradisi ini tidak sekadar kegiatan minum bersama, melainkan simbol keramahtamahan khas Senegal yang disebut Teranga. Siapa pun yang melintas di depan kerumunan penyeduh teh akan diajak untuk duduk dan menikmati segelas Ataya hangat. Pengalaman sederhana namun bermakna ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai identitas kebudayaan Kota Dakar.














