Semarang (PANTURATV.ID) - Komunitas Teater Kaplink Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) menyuarakan isu lingkungan melalui pementasan teater bergenre komedi horor. Pertunjukan bertajuk Dhemit tersebut digelar selama dua hari, yakni pada Rabu (30/9/2026) dan Kamis (1/10/2026) pukul 19.00 WIB di Gedung E Lantai 3 Kampus Udinus.
Meskipun dikemas dengan sentuhan komedi yang kental, pementasan berdurasi sekitar 60 menit ini membawa pesan kritis yang mendalam. Isu-isu lingkungan seperti penggusuran lahan, penebangan hutan, hingga penjarahan tanah tergambar secara padat dan lugas sepanjang pertunjukan.
“Penjarahan lahan masih menjadi isu panas hingga hari ini. Kasus yang ditemukan tak hanya di satu titik di negeri ini kerap kali menyenggol tidak hanya satu pihak. Masyarakat awamlah yang kerap kali menjadi korban. Hal ini mengusik kami untuk menyampaikan kritik, kekhawatiran, dan kepedulian melalui pementasan teater,” tutur Audrey, pimpinan produksi pementasan tersebut.
Lakon yang dibawakan merupakan naskah karya Heru Kesawa Murti yang diadaptasi oleh Agus Suharjoko. Cerita ini menyoroti dunia ghaib yang dipimpin oleh sosok Wowo Gendruwo dan Lurah Pohon Preh. Kehidupan mereka yang tenang di lahan tersebut mulai terancam ketika Rajeg Wesi,seorang pemborong sekaligus kontraktor proyek besar, datang untuk meratakan lahan dan menebang pohon preh yang dikeramatkan.
Di tengah proyek, para pekerja mendadak jatuh sakit. Suli, sang konsultan proyek, sebenarnya telah menyarankan agar Rajeg Wesi mendengarkan petuah sesepuh desa dan tidak mengusik pohon keramat tersebut.
Namun, dengan kesombongan dan ketamakannya, Rajeg Wesi mengabaikan protes warga. Ia tetap bersikeras melancarkan aksinya, bahkan nekat meratakan lahan dan meledakkan pohon preh menggunakan dinamit. Pementasan ini pun diakhiri dengan tragedi: kehancuran pohon preh memicu rentetan bencana alam, mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang. Bencana tersebut menelan banyak korban jiwa, termasuk Rajeg Wesi sendiri.
“Ketamakan manusia yang digambarkan oleh Rajeg Wesi bukan hanya mengganggu penghuni lahan, namun juga mendukung kerusakan alam. Hal inilah yang kerap kita temui di negara ini,” tutur Alkaido, pemeran Rajeg Wesi sekaligus Ketua UKM Teater Kaplink.
Pertunjukan ini sukses menyedot perhatian audiens. Tak hanya dihadiri oleh civitas akademika Udinus, pementasan juga disaksikan oleh mahasiswa dan pegiat seni dari berbagai kampus sekitar, seperti Universitas Semarang (USM) dan Universitas Ngudi Waluyo (UNW).
“Kami berharap pementasan ini mampu membuka hati banyak pihak yang menonton. Mahasiswa, yang merupakan agen of change peradaban sekiranya tergerak hatinya untuk ikut menjaga lingkungan dan tidak mengorbankan sesama hanya demi kerakusan semata,” imbuh Abung, pemeran Sesepuh Desa.
Melalui pementasan Dhemit, Teater Kaplink tidak hanya menyajikan hiburan teatrikal yang memikat, tetapi juga menyuarakan alarm pengingat bagi generasi muda. Di tengah maraknya alih fungsi lahan dan ancaman krisis iklim, karya ini menjadi bukti nyata bahwa seni panggung mampu berdiri tegak sebagai media refleksi, kritik sosial, sekaligus penggerak kesadaran lingkungan.














