Semarang (PANTURATV.ID) - Menghabiskan waktu berjam-jam mengusap layar ponsel demi menyaksikan potongan video pendek atau membaca berita buruk tanpa henti telah menjadi rutinitas harian jutaan anak muda di seluruh dunia. Kebiasaan yang dikenal dengan istilah doomscrolling ini sekilas tampak seperti sarana hiburan kasual untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas. Namun, dorongan tanpa sadar untuk terus memperbarui tenggat linimasa ini kerap kali menyita waktu istirahat dan mengganggu ritme harian tanpa disadari.
Secara psikologis, paparan informasi secara bertubi-tubi dan cepat memicu otak untuk terus menerus melepas dopamin dalam jumlah kecil namun berulang. Hal ini menciptakan siklus adiksi ringan yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari layar, bahkan ketika tubuh sudah menunjukkan sinyal lelah. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berdampak buruk pada rentang perhatian (attention span) yang kian memendek, membuat generasi muda kesulitan untuk fokus pada tugas-tugas panjang atau membaca bacaan yang mendalam.
Dampak buruknya tidak berhenti pada penurunan konsentrasi semata, melainkan merembet ke kesehatan mental. Menyerap konten negatif atau potongan kehidupan orang lain secara terus-menerus memicu perasaan cemas, gelisah, hingga Fear of Missing Out (FOMO). Perasaan tertinggal dan rasa ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi sering kali muncul akibat perbandingan tidak sehat yang terjadi secara tidak sadar saat menatap layar ponsel.
Dari segi fisik, pola hidup pasif ini berdampak langsung pada kualitas tidur. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar gawai pada malam hari menekan produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur alami tubuh. Akibatnya, banyak remaja dan usia dewasa muda mengalami gangguan tidur kronis atau insomnia, yang berujung pada kelelahan fisik dan penurunan daya tahan tubuh di siang hari.
Untuk memutus rantai kebiasaan buruk ini, kesadaran diri menjadi kunci utama. Menetapkan batasan waktu penggunaan aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta mengganti waktu layar dengan kegiatan fisik atau interaksi tatap muka dapat membantu mengembalikan keseimbangan hidup. Menjaga jarak sejenak dari dunia digital bukanlah bentuk ketinggalan zaman, melainkan langkah krusial untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga.















