Semarang (PANTURATV.ID) – Dalam rangka mendorong penguatan sektor ekonomi lokal serta mewujudkan kemandirian bagi para pelaku usaha di tingkat kelurahan, telah sukses dilaksanakan sebuah program pengabdian masyarakat berupa kegiatan pendampingan penyusunan laporan keuangan sederhana bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan edukatif yang berlangsung secara tatap muka dan interaktif ini diselenggarakan di wilayah RW 7, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.
Program penting ini diinisiasi sekaligus dipimpin langsung oleh Gustaf Bagus Alamsyah, seorang mahasiswa dari Jurusan Akuntansi Universitas Semarang (USM), yang mendedikasikan keilmuannya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk membantu meningkatkan literasi keuangan masyarakat setempat. Target audiens utama dari kegiatan ini adalah para pelaku UMKM lokal, yang didominasi oleh kelompok ibu rumah tangga yang sedang merintis maupun mengelola usaha mandiri di lingkungan tempat tinggal mereka.
Pelaksanaan program ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena klasik yang sering kali menjadi batu sandungan bagi perkembangan usaha mikro di Indonesia. Banyak pelaku UMKM di wilayah RW 7 Purwoyoso yang menghadapi kendala serius dalam mengukur performa riil bisnis mereka karena belum menerapkan sistem pencatatan transaksi yang terstruktur. Masalah mendasar yang paling sering dijumpai adalah bercampurnya dana operasional usaha dengan dompet atau anggaran rumah tangga keluarga. Akibatnya, pemilik usaha kerap kali merasa kebingungan untuk menentukan apakah bisnis mereka benar-benar menghasilkan keuntungan bersih atau justru sedang mengalami kerugian. Tanpa adanya pembukuan yang jelas, modal usaha juga rentan tergerus secara perlahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari yang tidak terduga.
Melihat urgensi tersebut, dalam sesi pemaparan materi, Gustaf Bagus Alamsyah memberikan penekanan mendalam bahwa pengelolaan dan penyusunan laporan keuangan bukanlah sekadar formalitas di atas kertas, melainkan fondasi utama demi menjaga keberlanjutan dan pertumbuhan jangka panjang sebuah usaha. Guna mengatasi kendala yang ada, Gustaf membagikan tips praktis serta solusi nyata yang sangat mudah diterapkan oleh para peserta. Ia mengajak para pelaku UMKM untuk mulai membangun kedisiplinan diri dengan memisahkan rekening atau wadah uang usaha dari uang pribadi.
Selain itu, para peserta dimotivasi untuk menghilangkan rasa malas dan mulai membiasakan diri menyisihkan waktu singkat sekitar 5 hingga 10 menit setiap harinya, terutama pada saat menutup toko atau setelah selesai berproduksi, untuk secara konsisten mencatat seluruh arus transaksi yang terjadi, baik berupa uang masuk maupun uang keluar.
Agar materi akuntansi ini tidak terkesan rumit dan menakutkan bagi peserta yang awam, metode pendampingan sengaja difokuskan pada tiga instrumen pembukuan dasar yang sangat praktis dan dirancang menggunakan format tabel sederhana agar mudah direplikasi secara manual dalam kehidupan sehari-hari. Instrumen pertama adalah Buku Kas Utama, yang berfungsi mencatat pergerakan harian setiap uang yang masuk dari hasil penjualan maupun uang yang keluar untuk belanja operasional. Instrumen kedua adalah Buku Stok Barang, sebuah alat bantu yang sangat berguna untuk mengontrol sisa inventaris bahan baku maupun kemasan produk agar tidak terjadi kekurangan atau pemborosan pasokan. Instrumen ketiga yang tidak kalah penting adalah format Laporan Laba/Rugi Bulanan ringkas, yang dirancang khusus agar pelaku usaha dapat dengan cepat menghitung selisih pendapatan bersih setelah dikurangi seluruh pos biaya, termasuk keharusan mengalokasikan anggaran untuk gaji diri sendiri selaku pemilik usaha.
Sepanjang jalannya acara, atmosfer diskusi terlihat sangat hidup dan dipenuhi antusiasme yang tinggi dari para ibu-ibu pelaku UMKM. Banyak dari mereka yang secara aktif berkonsultasi mengenai hambatan pencatatan yang mereka alami selama ini. Melalui program pendampingan intensif ini, diharapkan paradigma para pelaku UMKM di lingkungan RW 7 Kelurahan Purwoyoso dapat berubah, sehingga mereka tidak lagi memandang pembukuan keuangan sebagai sesuatu yang memusingkan atau mempersulit ruang gerak usaha mereka. Sebaliknya, laporan keuangan kini dipahami sebagai sebuah alat bantu strategis untuk meningkatkan kualitas manajemen dan menaikkan kelas bisnis mereka.
Lebih jauh lagi, laporan keuangan yang tersusun rapi secara berkala juga akan menjadi modal berharga atau "paspor" penting untuk meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan lembaga keuangan formal, seperti perbankan, apabila di masa depan para pelaku UMKM ini memerlukan akses pembiayaan guna melakukan ekspansi modal usaha. Kegiatan yang berjalan dengan tertib dan lancar ini ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri dari Universitas Semarang (USM) dengan seluruh perwakilan pelaku UMKM yang hadir, sebagai simbol visual dari komitmen bersama demi mewujudkan ekosistem usaha mikro yang jauh lebih sehat, tertib, mandiri, dan berkelanjutan.














