LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'LIVE TV PANTURA SUDAH BISA DIAKSES — Tonton siaran langsung sekarang, klik tombol 'LIVE TV'
Gaya Hidup

Bahaya Tersembunyi Akrilamida pada Makanan Sehari-hari dan Risikonya terhadap Kanker

Oleh Cinta Isabell
24 Juli 2026
6 menit baca

Akrilamida adalah senyawa kimia yang terbentuk secara alami saat makanan berkarbohidrat tinggi dipanaskan pada suhu ekstrem. Paparan berlebihan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Bahaya Tersembunyi Akrilamida pada Makanan Sehari-hari dan Risikonya terhadap Kanker

Semarang ( PANTURATV.ID ) - Kebiasaan mengonsumsi makanan sehari-hari atau pola diet yang kita terapkan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam menentukan tingkat risiko kesehatan tubuh kita di masa depan, termasuk di antaranya adalah kerentanan terhadap penyakit mematikan seperti kanker.

Dalam dunia kesehatan dan penelitian medis, terdapat satu senyawa kimiawi yang belakangan ini terus mendapatkan sorotan tajam dari para ilmuwan, yakni sebuah zat yang dikenal dengan nama akrilamida. Penting untuk dipahami secara mendalam bahwa zat ini sama sekali bukanlah semacam bahan pengawet atau zat aditif tambahan buatan pabrik yang sengaja dicampurkan ke dalam produk pangan kita.

Sebaliknya, senyawa kimia ini justru tercipta dan terbentuk secara natural sebagai hasil dari reaksi kimiawi ketika bahan makanan yang memiliki kandungan pati atau karbohidrat tinggi diproses melalui metode pemanasan bersuhu ekstrem, seperti dibakar, dipanggang di dalam oven, maupun digoreng di dalam minyak panas.

Meskipun studi klinis mengenai dampak pasti senyawa ini terhadap tubuh manusia masih terus dikembangkan dan diteliti secara intensif, berbagai temuan awal dari kalangan medis telah mengindikasikan bahwa paparan senyawa tersebut secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang panjang memiliki potensi kuat untuk meningkatkan risiko munculnya sel-sel pemicu kanker di dalam jaringan tubuh.

Merujuk pada catatan resmi yang pernah dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, atau yang lebih dikenal luas sebagai FDA, proses pembentukan zat akrilamida ini pada umumnya sangat rentan terjadi pada jenis bahan pangan nabati yang kaya akan karbohidrat apabila diproses atau dimasak melampaui suhu seratus dua puluh derajat Celsius.

Menyadari adanya potensi bahaya kesehatan yang mengintai dari cara memasak yang salah ini, berbagai lembaga dan otoritas kesehatan global secara konsisten mengimbau masyarakat luas untuk mulai mengurangi dan membatasi asupan makanan yang disinyalir mengandung konsentrasi akrilamida dalam level yang membahayakan.

Sebagai bentuk kewaspadaan kita dalam memilih asupan harian, berikut adalah penjabaran mengenai beberapa jenis hidangan dan makanan ringan yang telah diidentifikasi memiliki kandungan akrilamida dalam takaran yang patut diwaspadai, berdasarkan kompilasi data dari beragam sumber tepercaya:

images (3).jpeg
  1. Aneka ragam gorengan dan keripik olahan. Makanan ringan berbahan dasar kentang seperti keripik kentang dalam kemasan, kentang goreng ala restoran cepat saji, dan berbagai variasi camilan renyah yang digoreng garing merupakan salah satu penyumbang terbesar masuknya senyawa ini ke dalam tubuh kita.

Reaksi kimia yang memicu munculnya akrilamida terjadi secara masif pada saat kandungan gula alami yang tersimpan di dalam umbi kentang bergesekan dengan asam amino di tengah suhu penggorengan yang sangat panas. Ada sebuah aturan tidak tertulis yang harus selalu kita ingat, yaitu semakin lama proses penggorengan dilakukan dan semakin gelap warna kecokelatan yang dihasilkan pada makanan tersebut, maka akan semakin melonjak pula kadar racun yang terkandung di dalamnya.

Berdasarkan riset keamanan pangan yang ada, takaran akrilamida pada sekantong keripik kentang rupanya bisa menyentuh angka tiga ratus hingga melampaui dua ribu mikrogram per kilogram, sementara pada hidangan kentang goreng potong biasa angkanya berkisar antara dua ratus hingga tujuh ratus mikrogram per kilogram.

Untuk menyiasati dan menekan risiko ini, kita sangat dianjurkan untuk beralih pada metode memasak yang lebih bersahabat, seperti merebus bahan makanan, menggunakan alat penggorengan udara atau air fryer, dan yang paling krusial adalah menghindari proses memasak hingga terlalu garing atau gosong.

images (5).jpeg
  1. Berbagai macam biskuit, kue kering, dan makanan ringan panggangan. Produk-produk camilan panggangan seperti biskuit dan kue kering yang sering kita jumpai di pasaran pada umumnya diproses di dalam oven industri dengan suhu pemanasan yang teramat tinggi. Tidak hanya rentan menyimpan kadar akrilamida yang membahayakan, kudapan manis ini kerap kali dijejali dengan tambahan zat pengawet sintetis dan gula rafinasi yang merugikan metabolisme.

Berdasarkan sejumlah studi observasi, kandungan akrilamida di dalam sekeping biskuit dapat berfluktuasi mulai dari angka seratus enam puluh hingga menembus seribu mikrogram per kilogram, yang mana angka pastinya sangat dipengaruhi oleh komposisi bahan dasar dan teknik pemanggangan yang diaplikasikan pabrik.

Apabila Anda memiliki kebiasaan atau kegemaran menikmati camilan sebagai teman bersantai di sore hari, alangkah lebih bijaksana jika Anda mulai mempertimbangkan alternatif lain, seperti memilih produk yang dipanggang dengan warna lebih terang, atau lebih baik lagi jika Anda berkreasi membuat kue sendiri di rumah dengan memanfaatkan tepung gandum utuh yang kaya serat serta mengurangi takaran pemanis gulanya secara drastis.

images (6).jpeg
  1. Roti tawar yang dipanggang atau diolah hingga berwarna kecokelatan gelap. Prinsip dasar yang berlaku pada roti panggang ini serupa dengan gorengan, yakni semakin pekat dan gelap warna gosong pada lembaran roti panggang yang Anda buat, maka akan semakin melimpah pula volume akrilamida yang bersarang di permukaannya.

Munculnya warna cokelat tua atau nyaris hitam pada roti tersebut merupakan indikator paling nyata bahwa proses pemanasan telah berlangsung pada suhu yang sangat ekstrem, yang secara otomatis memicu pelipatgandaan produksi senyawa berbahaya tersebut. Oleh karena itu, sekadar memanggang roti hingga warnanya menjadi kekuningan terang saja sudah terbukti secara signifikan sanggup meminimalisir risiko yang ada.

Secara kuantitatif, takaran akrilamida di dalam selembar roti panggang umumnya berada di kisaran angka lima puluh sampai dengan lima ratus mikrogram per kilogram, dengan kecenderungan bahwa roti yang teksturnya lebih gosong akan menempati angka batas atas. Sebagai solusi agar sarapan pagi Anda tetap menyehatkan, Anda bisa beralih mengonsumsi roti berbahan dasar gandum murni atau roti biji-bijian utuh yang dipanaskan secara perlahan dan tidak berlebihan.

images (8).jpeg
  1. Olahan mi instan kering bersuhu tinggi. Siapa sangka, zat akrilamida ternyata juga bisa mengintai di dalam sebungkus mi instan yang menjadi makanan darurat favorit banyak orang, terutama pada jenis mi yang pada tahap produksi pabrikannya harus melalui proses penggorengan awal atau pemanasan suhu tinggi guna mengeringkan teksturnya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, senyawa ini muncul sebagai sebuah reaksi alami ketika bahan baku yang sarat akan karbohidrat berpadu dengan sejenis asam amino yang disebut asparagin, lalu dipanaskan pada titik suhu tertentu. Rentetan proses kimiawi ini dalam ranah ilmu pangan lebih sering diistilahkan sebagai reaksi Maillard, yakni sebuah reaksi yang sejatinya bertanggung jawab untuk memberikan warna kecokelatan yang menggugah selera sekaligus melepaskan aroma harum dan cita rasa gurih yang khas pada makanan kita.

Dalam konteks pembuatan mi instan komersial, akrilamida paling banyak terbentuk pada tahapan penggorengan yang bertujuan memangkas kadar air di dalam adonan mi. Walaupun begitu, konsentrasi pasti dari senyawa ini bisa sangat bervariasi dari satu merek ke merek lainnya, karena sangat bergantung pada kualitas bahan baku yang dipakai, pengaturan suhu mesin, serta durasi pengolahan di lini produksi.

images (9).jpeg
  1. Seduhan kopi kemasan sachet instan. Potensi terbentuknya akrilamida pada minuman penahan kantuk ini bermula pada saat biji-biji kopi mentah mulai dimasukkan ke dalam mesin pemanggang atau roaster bersuhu amat panas di pabrik. Berbagai badan riset kesehatan bahkan telah memasukkan senyawa yang timbul dari proses roasting ini ke dalam kategori karsinogen yang sangat mungkin memicu pertumbuhan kanker pada sel tubuh. Lebih jauh lagi, persoalan pada kopi sachet instan tidak hanya berhenti pada paparan akrilamida semata.

Produk minuman instan semacam ini secara umum telah dicampur dengan krim penambah rasa dan pemanis gula buatan dalam takaran yang terkadang melebihi batas anjuran harian. Apabila minuman manis ini dikonsumsi secara tidak terkendali setiap hari dan berlanjut dalam jangka waktu bertahun-tahun, timbunan kalori dan gula yang berlebih tersebut akan menjadi jalan pintas menuju kondisi obesitas dan memicu timbulnya penyakit diabetes melitus.

Pada akhirnya, kondisi tubuh yang mengalami obesitas itu sendiri telah diakui secara medis memiliki keterkaitan erat dan tidak langsung dengan peningkatan drastis akan risiko munculnya berbagai tipe kanker yang sangat membahayakan kualitas hidup seseorang di masa tua.

Tags

#akrilamida#makanan berbahaya#risiko kanker#kesehatan Semarang#gorengan#keripik#Jawa Tengah#FDA#pola diet sehat#pemanasan makanan tinggi#berita kesehatan#keamanan pangan#akrilamida bahaya#makanan kanker#gorengan berbahaya#keripik akrilamida#diet sehat Jawa Tengah#risiko kanker makanan#cara memasak sehat#FDA akrilamida

Tentang Penulis

Cinta Isabell

Penulis

Cinta adalah jurnalis di PanturaTV yang menulis seputar olahraga/gaya hidup/berita nasional. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat dan mudah dipahami pembaca dari berbagai kalangan.

59 artikel dipublikasikan

Berita Lainnya untuk Anda

Temukan berita menarik lainnya dari berbagai kategori