Semarang (PANTURATV.ID) - Akademi Kepolisian (Akpol) sukses menggelar ajang Hacking Competition Cyber Security Polri Defender yang menjadi bagian dari kegiatan akademik PORSIMAPTAR XXVI 2026. Berlangsung pada 26-30 Oktober 2026, kompetisi ini diikuti oleh 52 tim dari jenjang SMA/SMK hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Wadah nasional ini dirancang untuk menguji sekaligus meningkatkan keahlian peserta di bidang keamanan siber, mulai dari simulasi eksploitasi web, digital forensik, analisis kriptografi, hingga kesadaran akan ancaman kejahatan digital, dengan tetap menjunjung tinggi etika dan aturan main yang berlaku.
Perjalanan kompetisi terbagi ke dalam tiga babak yang cukup menguras energi dan strategi. Babak penyisihan secara daring pada 26 Oktober menyaring 52 tim lewat format Jeopardy Capture The Flag (CTF) selama tiga jam, yang kemudian meloloskan 40 tim ke babak semifinal pada hari berikutnya. Di babak semifinal, selain berburu poin, para peserta juga diuji kemampuannya dalam menyusun laporan teknis (write-up), hingga akhirnya terpilih 15 tim terbaik yang berhak tampil langsung di babak final.
Pertempuran puncak digelar secara luring di Auditorium Paramartha Akpol pada 30 Oktober 2026 menggunakan sistem Attack–Defense. Dalam babak ini, setiap tim mengelola satu server untuk diamankan dari serangan lawan sekaligus berusaha membobol benteng pertahanan tim lain sesuai Rule of Engagement (RoE). Persaingan ketat tersebut dinilai langsung oleh lima dewan juri dari kalangan akademisi dan praktisi IT, termasuk perwakilan dari Akademi Kepolisian, Universitas Semarang, Universitas STEKOM, dan Diskominfo Kota Semarang.
Ketua Dewan Juri, Iwan Nur Adi Tri Pamungkas, menjelaskan, “Kompetisi ini tidak hanya menilai siapa yang paling cepat memperoleh flag, tetapi juga bagaimana peserta memahami kerentanan, melakukan analisis, menyusun strategi, serta mendokumentasikan langkah-langkah teknis melalui write-up. Khusus pada babak final dengan format Attack–Defense, peserta dituntut mampu menyeimbangkan kemampuan menyerang dan mempertahankan sistem. Hal ini mencerminkan kompetensi yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan keamanan siber di dunia nyata dan kami berharap lomba ini dapat memunculkan defender-defender penjaga ruang siber Indonesia.”
Setelah melalui proses rekapitulasi poin dan penilaian dokumen teknis, tim HJB dari Universitas Brawijaya berhasil keluar sebagai Juara I, disusul tim TelSec dari Telkom University di posisi Juara II, dan tim PETIR dari BINUS University sebagai Juara III, serta tim Eagle2425c_aau dari AAU yang meraih penghargaan Best Write-up.
Di akhir acara, Direktur Akademik Akpol Kombes Pol. Guntur Agung Supono menegaskan, “Melalui Hacking Competition Cyber Security Polri Defender, kami ingin memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, dan kompetensi di bidang keamanan siber. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mampu membentuk generasi yang memiliki kemampuan teknis, integritas, serta kesadaran untuk memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan kejahatan siber.”












